<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>RandomWorld</title>
	<atom:link href="http://randomworld.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://randomworld.wordpress.com</link>
	<description>Stay firm. Stand out.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Apr 2009 04:03:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='randomworld.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/35c9ec9fcdb2e5d6394416c6007d839f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>RandomWorld</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Good News from Indonesia!</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2009/04/28/good-news-from-indonesia/</link>
		<comments>http://randomworld.wordpress.com/2009/04/28/good-news-from-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 04:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fenomena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Dear All Bloggers:
I encourage you to visit this blog . Yes, click the image! It will take you to another side of the world filled with good news that will enlighten and cheer up your day!
To Indonesians around the world, this will clearly bring up your love of Indonesia and make you feel optimistic about [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=207&subd=randomworld&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dear All Bloggers:</p>
<p>I encourage you to visit this blog <a href="http://goodnewsfromindonesia.com"><img src="http://i594.photobucket.com/albums/tt21/ibadawi/GNFI1.jpg" border="0" alt="Good News from Indonesia"></a>. Yes, click the image! It will take you to another side of the world filled with good news that will enlighten and cheer up your day!</p>
<p>To Indonesians around the world, this will clearly bring up your love of Indonesia and make you feel optimistic about the future. To everybody else, this will open your horizon of today information that you aren&#8217;t likely to find on newspapers.</p>
<p>Good News from Indonesia is all about the good news, beyond headlines.<br />
Enjoy!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/randomworld.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/randomworld.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/randomworld.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/randomworld.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/randomworld.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/randomworld.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/randomworld.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/randomworld.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/randomworld.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/randomworld.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=207&subd=randomworld&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://randomworld.wordpress.com/2009/04/28/good-news-from-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0bf6d58ca0362227d3bd364bc1c2ad5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ian</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i594.photobucket.com/albums/tt21/ibadawi/GNFI1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Good News from Indonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karnoto: An Indonesian Culinary Business Story in America</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2009/02/21/karnoto-an-indonesian-culinary-business-story-in-america/</link>
		<comments>http://randomworld.wordpress.com/2009/02/21/karnoto-an-indonesian-culinary-business-story-in-america/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 17:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan Makan-Makan]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis restoran]]></category>
		<category><![CDATA[carry-out]]></category>
		<category><![CDATA[chinese food]]></category>
		<category><![CDATA[curry]]></category>
		<category><![CDATA[karnoto]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[lunch special]]></category>
		<category><![CDATA[nasi goreng]]></category>
		<category><![CDATA[orange chicken]]></category>
		<category><![CDATA[pad thai]]></category>
		<category><![CDATA[rumah makan padang]]></category>
		<category><![CDATA[soto babat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Karnoto. Nama ini terdengar sangat Indonesia, atau tepatnya sangat Jawa. Dan memang Karnoto adalah nama seorang Jawa yang terkenal dengan masakanan Indonesianya yang hanya tersedia exclusively di hari Minggu di rumah sederhananya di Maryland, USA.
Pak Karnoto ini ceritanya adalah seorang koki yang libur pada hari minggu. Namun hari Minggu pun tidak digunakan untuk istirahat, justru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=197&subd=randomworld&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Karnoto. Nama ini terdengar sangat Indonesia, atau tepatnya sangat Jawa. Dan memang Karnoto adalah nama seorang Jawa yang terkenal dengan masakanan Indonesianya yang hanya tersedia <em>exclusively </em>di hari Minggu di rumah sederhananya di Maryland, USA.</p>
<p>Pak Karnoto ini ceritanya adalah seorang koki yang libur pada hari minggu. Namun hari Minggu pun tidak digunakan untuk istirahat, justru untuk mengobati kekangenan orang-orang Indonesia akan masakan nusantara. Pengunjungnya pun datang dari berbagai pelosok daerah Maryland-Washington DC-Virginia. Ini mungkin salah satu jargon para pebisnis makanan, &#8220;<em>Kalau makanannya enak, ke mana pun akan dikejar</em>&#8220;.</p>
<p>Menu masakan yang disajikannya memang sangat beragam, miriplah menu restoran nusantara. Ada nasi goreng ayam, seafood, dan kambing. Martabak telur juga ada. Cumi-cumi cabe hijau ala restoran padang pun tersedia. Tempe dan tahu goreng, ayam goreng sambel terasi, soto babat, rawon, pempek&#8230;<em>and the list goes on</em>. Untuk sebuah wisata kuliner seminggu sekali ini cukup menyenangkan dan mengenyangkan.</p>
<p>Bukan hanya karena menunya yang beragam yang membuat Karnoto <em>is worth the mention</em>, melainkan juga <span id="more-197"></span>karena operasional bisnisnya. Pintu mulai dibuka sekitar jam 10, masakan biasanya ludes sekitar jam 5 sore. Pengunjung bisa mencapai ratusan dalam satu hari. Banyak dari mereka yang tidak hanya makan di tempat tapi juga <em>carry-out.</em> Tentunya kapasitas produksi dan efisiensi yang cukup tinggi.</p>
<p>Minggu kemarin saya mendapat kabar gembira bahwa teman saya masuk sebuah sekolah kuliner di Virginia. Lalu saya pun segera membayangkan restoran Indonesia yang ada di sini (MD-DC-VA), dan juga membandingkannya dengan restoran Cina dan Thailand. Di Amerika, restoran Cina sudah seperti <em>warteg </em>dengan Orange Chicken-nya, meskipun banyak juga yang kelas atas. Restoran Thailand rata-rata ada di kelas menengah-atas mengandalkan Pad Thai dan berbagai jenis Curry-nya. Sedangkan restoran Indonesia, saya belum bisa melihat <em>segmenation </em>dan <em>positioning</em>nya karena tidak begitu banyak restoran Indonesia di daerah MD-DC-VA.</p>
<p>Saat itu saya mencoba untuk membandingkan restoran-restoran Cina-Thailand-Indonesia dari segi <em>cost accounting</em>, &#8220;Kenapa ya, kok resto Cina bisa murah banget? Mungkin karena bumbu yang mereka pakai ya itu-itu aja, nggak seperti masakan Indonesia. Bumbu rempah-rempah itu kan yang bikin mahal. Mereka bukan produk utama, tapi dibutuhkan untuk menghasilkan produk utama. Tanggapan yang saya peroleh adalah, &#8220;Itu bisa diakali&#8221;. Diakali? Maksudnya masak rendang tanpa jahe atau bumbu lotek pakai JIF Peanut Butter?</p>
<p>Mungkin karena bumbu rempah-rempah itu juga restoran Thailand akhirnya memposisikan diri di kelas menengah-atas. Masakan Indonesia sendiri bagaimana? Yang saya dengar ada sebuah rumah makan Padang di New York dengan harga terjangkau untuk ukuran state mahal tersebut, bahkan bisa dibilang <em>great deal</em> bagi mereka yang bukan penggemar masakan Padang sekali pun. Di Philladelpia juga banyak warung makan Indonesia yang <em>affordable</em> dan enak. Begitu juga pastinya di California.</p>
<p>Dan keberadaan warung Karnoto membuat saya berpikir bahwa beliau saja bisa mencapai <em>economies of scale</em> di mana tingginya produktifitas bisa berujung di harga yang lebih bersaing dengan restoran Cina. Rata-rata menu kotak kartonnya (seperti yang biasa dipakai di acara <em>slametan</em>) hanya $5. Bandingkan satu kotak penuh nasi goreng kambing atau cumi-cumi cabe hijau ini dengan menu <em>lunch special a la Chinese food</em> (biasanya dengan sedikit nasi goreng tawar atau nasi putih dan dua pilihan lauk plus satu <em>fortune cookie</em>) yang rata-rata harganya $6-7. Yang belum bisa dipastikan dari <em>affordable price</em> ini adalah fakta bahwa warung Karnoto dibuka di rumahnya sendiri yang otomatis memangkas banyak biaya secara signifikan.</p>
<p>Melihat populasi yang begitu beragam di DC Metro Area ini dan populasi orang Indonesia sendiri yang cukup besar, mengapa hanya ada (setahu saya) dua restoran Indonesia resmi? Satu restoran sudah tidak menyala lagi lampu OPEN-nya. Satunya lagi, Satay Sarinah, <em>for sure</em> punya makanan otentik nusantara namun sayang berlokasi di suatu tempat yang kurang <em>friendly</em> alias jauh dari pusat lalu-lintas. Ada yang berargumen bahwa restoran Indonesia tidak akan begitu diminati oleh orang Indonesia sendiri karena mereka cenderung suka masak di rumah untuk menghemat. Sedangkan orang asing kurang mengenal masakan Indonesia yang kalah bersaing dengan makanan Cina atau Thailand. Kalau memang argumen ini benar, apa rasionalnya untuk begitu banyaknya restoran Indonesia di New York dan California? Populasi orang Indonesia di sana jauh lebih besar dan persaingan bisnis restoran jauh lebih kejam. Tapi mereka tetap eksis, terlepas dari <em>profitable</em> atau tidak. Bagaimana pula dengan warung Karnoto?</p>
<p>Saat berdiskusi tentang restoran Indonesia di Amerika teman saya berpendapat bahwa pemerintah kita kurang bisa memberi iklim yang kondusif untuk mengembangkan bisnis ini. Sebagaimana untuk restoran Thailand, kedutaan besar Thailand memberikan pinjaman-berbunga-sangat-rendah dibandingkan bank umumnya bagi pebisnis restoran. Dan mungkin juga ada dukungan usaha promosi terintegrasi dari pemerintah.</p>
<p>Melihat Karnoto sebagai sebuah <em>case study</em>, seharusnya restoran Indonesia bisa bersaing dengan restoran-restoran Asia lain yang sudah lebih lama bercokol di sini. Apalagi jika ada kerjasama dan dukungan dari kedutaan besar atau konjen Indonesia setempat.</p>
<p>Eksistensi restoran Indonesia bukan hanya mencerminkan kesuksesan bisnis kuliner nusantara, melainkan juga menggambarkan pengaruh Indonesia sendiri di Amerika Serikat.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/randomworld.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/randomworld.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/randomworld.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/randomworld.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/randomworld.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/randomworld.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/randomworld.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/randomworld.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/randomworld.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/randomworld.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=197&subd=randomworld&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://randomworld.wordpress.com/2009/02/21/karnoto-an-indonesian-culinary-business-story-in-america/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0bf6d58ca0362227d3bd364bc1c2ad5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Night Driving in the Suburb</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2009/01/20/night-driving-in-the-suburb/</link>
		<comments>http://randomworld.wordpress.com/2009/01/20/night-driving-in-the-suburb/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 02:29:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Highbeam]]></category>
		<category><![CDATA[night driving]]></category>
		<category><![CDATA[Night lights]]></category>
		<category><![CDATA[Suburb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Driving a car is fun. It&#8217;s made even more exciting if we can drive smoothly on a hassle-free road. But I know it ain&#8217;t always possible. There are just so many things we encounter on the road. And I think that&#8217;s what could make our own car one of the most stressful places in this planet.
You [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=185&subd=randomworld&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Driving a car is fun. It&#8217;s made even more exciting if we can drive smoothly on a hassle-free road. But I know it ain&#8217;t always possible. There are just so many things we encounter on the road. And I think that&#8217;s what could make our own car one of the most stressful places in this planet.</p>
<p>You can find almost any excuse to justify your swearing&#8230;people honking impatiently, cutting in-and-out, driving so close behind us like we have to hit 70 mph so they won&#8217;t hit us, police car on the shoulder ready to turn the alarm on once we go over 40 mph, heavy rain, thick snow, icy road, fogs blocking our sights, running late, and the list goes on. What do you hate the most? I used to think that every police car passing my car knows that I&#8217;m a rookie driver.  I&#8217;m not a rookie anymore, yet still I hate it when a police car is driving behind me.</p>
<p>But something else irritates me more when driving at night, especially in the suburb. <span id="more-185"></span>You can imagine up-and-down topography making driving like riding a roller coaster. I don&#8217;t know why but it seems to me that some people driving at night in the suburb are not that patience and tolerant, or even respectful toward other drivers. As a driver myself I understand that I like a clear vision as far as my eyes can reach. But with no fancy lights of city stores, suburb area is like a world of darkness. Not to mention the deer that randomly shows up, stunned and amazed by a car&#8217;s bright highbeam light.</p>
<p>And not only does the bright highbeam shock the deer, but it irritate me as well. With even a fine sky and a full moon, some drivers still like to turn their highbeam on. I like to turn my highbeam on as well sometimes. But as soon as I know a car is coming from the opposite direction, I turn it off. Some other drivers do, some don&#8217;t. And when they don&#8217;t, I almost always wonder in my head, &#8220;What these people are thinking?&#8221;</p>
<p>I thought it&#8217;s the United States of America; I thought people were more cautious when driving in this country than in, I hate to say, Indonesia. Here I am wondering in my car almost blinded by the amazingly bright highbeam of the car coming from the other direction.  What is so hard about switching the highbeam off and turning it back on after no more car is coming? Is it really hard to see without the highbeam?</p>
<p>It makes me come up with my night-driving philosophy, <em>Only those who do not have a bright vision need the help of bright highbeam</em>. It sounds more like a fact.</p>
<p>Please, drive respectfully!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/randomworld.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/randomworld.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/randomworld.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/randomworld.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/randomworld.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/randomworld.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/randomworld.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/randomworld.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/randomworld.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/randomworld.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=185&subd=randomworld&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://randomworld.wordpress.com/2009/01/20/night-driving-in-the-suburb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0bf6d58ca0362227d3bd364bc1c2ad5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Globalization: Are We Going to Have the Same Face?</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/12/17/globalization-are-we-going-to-have-the-same-face/</link>
		<comments>http://randomworld.wordpress.com/2008/12/17/globalization-are-we-going-to-have-the-same-face/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 04:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Globalization]]></category>
		<category><![CDATA[IFRS]]></category>
		<category><![CDATA[Mango]]></category>
		<category><![CDATA[Ten Flatteners]]></category>
		<category><![CDATA[Tom Friedman]]></category>
		<category><![CDATA[Zara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Living in today&#8217;s world is way different from what anybody could have ever expected. News spread at the speed of light. Leaving a little room for arbitrage. Indeed, connecting every part of the world is argued to bring an enhancement to the people living in it.
Globalization is making every single part work together. Tom Friedman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=165&subd=randomworld&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Living in today&#8217;s world is way different from what anybody could have ever expected. News spread at the speed of light. Leaving a little room for arbitrage. Indeed, connecting every part of the world is argued to bring an enhancement to the people living in it.</p>
<p>Globalization is making every single part work together. Tom Friedman called it the Ten Flatteners. They are what makes us somewhat connected to everybody. Yes, all kind of people. Those who have access to anything. In another world inside the earth Facebook connects people; it smooths globalization. And as globalization advances further, are we going to show a stronger Indonsian identity or are we going to have the same face with other nations?<span id="more-165"></span></p>
<p>It&#8217;s true that some parts of the world are still untouched by this global force. But it&#8217;s only a matter of time. In one form or another, globalization is working its way there. And it surely has many ways.</p>
<p>And today&#8217;s globalization has somewhat similar impact as the earlier versions. The impact that Cristóbal Colón (known better as Christopher Columbus) never thought would happen again.</p>
<p>In ancient time, whether it was a peaceful trade or an effort to colonize, globalization brought along the culture of its people. Collision of powers and cultures of the visitors and the hosts were inevitable. And worse, one of the cultures eventually faded away.</p>
<p>Back to today&#8217;s world, the many signs of a way to our one-face are already seen almost everywhere. They are in technology, fashion, pop culture, and even food. More and more of us are using the same gadgets; we are moving to the latest technology faster than ever before. Fashion fever is globalizing, too, with Zara and Mango as some of its front liners. Our TV channels are flooded with nothing different than shows adopting westerns style and its infamous MTV. And our food- ironically- might be the force that will make us lose our identity. It&#8217;s undeniable that McDonald&#8217;s is not only sticking its flags around the world, but also deeper into its consumers.</p>
<p>And with a worry of being left out, some people try hard to be as updated with the global culture as possible. And when carrying our own authentic identity is felt burdensome, chances are our culture is working its way to leaving this country, and eventually this world. Reacting in an extreme way as a response to another country&#8217;s claim on our culture is not going to maintain our true identity. It, in contrary, shows that we are not safeguarding our identity well enough. Or perhaps it&#8217;s not only our identity, it&#8217;s a shared one- we know it&#8217;s ours. But isn&#8217;t it the point of this whole globalization process? We will eventually share a single culture. The Incas and Mayan people had never expected that they would have to speak Spanish today. Who knew that majority of people in South America is speaking Spanish and Portuguese now. But guess what, we all will share something similar, one way or another, soon or later. And when we must share that similarity, it means a lost of a lot of things.</p>
<p>The one-face has kicked off already in a form of International Financial Reporting Standard (IFRS). This standard is a progress to make financial reporting more transparent, thus more reliable. The argument is that we are now in a globalized era with Multi National Corporations that have no loyalty to any nation as the big players. So, we need a system that makes it easier for every part in the world to connect. We need something standardized.</p>
<p>In the past, great agricultural systems that nourished the people of Aztec and Maya while at the same time were environmentally friendly (we call it the green technology today) disappeared. Look at what happens to once one of the agricultural systems Mexico, it has become Mexico City- one of the most polluted cities in the planet. The globalization forces from Europe were trying to eliminate indigenousity and make things their way.</p>
<p>Nothing will happen unless we do something. This buzz word is very hard to deny. If we do nothing but getting sucked into the progress that globalization promotes, we should not complain if in the future it kicks out butt hard. Globalization will force us to embrace something and leave the other. We might be enjoying something today and not ready for invasions that will cause us to lose some things that we were once proud of. Our trees, our lands, our culture, and even our people.</p>
<p>Professor Sergei Arutyunov the head of the Institute of Ethnology and Anthropology of the Russian Academy of Sciences, on <a href="http://english.pravda.ru/science/earth/29-11-2007/101929-language-0" target="_blank">an article</a> said, &#8220;On the other hand, if 20 languages disappear every year, then it means than 2,000 languages will vanish in a hundred years. &#8221; Is any of Indonesian ethnic languages among them? We hope not.</p>
<p>So, are we gathering efforts to be stronger this globalized world? Or is it going to push us to the corner where we have no choice but to accept whatever it gives us? In another word, is this globalization going to make us more Indonesian or less Indonesian?</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/randomworld.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/randomworld.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/randomworld.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/randomworld.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/randomworld.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/randomworld.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/randomworld.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/randomworld.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/randomworld.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/randomworld.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=165&subd=randomworld&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://randomworld.wordpress.com/2008/12/17/globalization-are-we-going-to-have-the-same-face/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0bf6d58ca0362227d3bd364bc1c2ad5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Globalization: Are We In?</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/11/12/globalization-are-we-in/</link>
		<comments>http://randomworld.wordpress.com/2008/11/12/globalization-are-we-in/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 02:02:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Globalization]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Global]]></category>
		<category><![CDATA[Penduduk]]></category>
		<category><![CDATA[Sensus]]></category>
		<category><![CDATA[The World is Flat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Original article posted on www.jakartabutuhrevolusibudaya.com.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia. Menurut data biro sensus Amerika, perkiraan jumlah penduduk Indonesia di tahun 2010 mencapai 242,968,342 yang menempatkan kita di urutan ke-empat negara berpenduduk terbanyak di dunia. Angka ini sedikit di atas Proyeksi Penduduk Indonesia oleh BPS, BAPPENAS, dan UNFPA yang memperkirakan penduduk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=145&subd=randomworld&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Original article posted on <a href="http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/" target="_blank">www.jakartabutuhrevolusibudaya.com</a>.</p>
<p>Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia. Menurut data biro sensus Amerika, perkiraan jumlah penduduk Indonesia di tahun 2010 mencapai <a href="http://www.census.gov/cgi-bin/ipc/idbrank.pl" target="_blank">242,968,342 </a>yang menempatkan kita di urutan ke-empat negara berpenduduk terbanyak di dunia. Angka ini sedikit di atas Proyeksi Penduduk Indonesia oleh BPS, BAPPENAS, dan UNFPA yang memperkirakan penduduk Indonesia akan sebanyak <a href="http://www.datastatistik-indonesia.com/proyeksi/index.php?option=com_proyeksi&amp;task=show&amp;Itemid=941" target="_blank">233,477,400 </a>di tahun yang sama. Tiga negara di ranking teratas (Cina, India, dan Amerika Serikat) adalah mereka yang selain bersaing dalam jumlah penduduk juga bersaing dalam berbagai bidang strategis di dunia. Cina telah berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. India kini semakin <em>ngebut</em> dengan berbagai pengembangan teknologinya. Amerika sendiri, selain berusaha agar tidak sampai <em>keteteran</em> di arena balap dunia, tampaknya semakin gencar melakukan manuver politik untuk mendukung bidang-bidang lain. Amerika, Cina, India, dan negara-negara maju lainnya bersaing sekuat tenaga untuk menjadi pemimpin era globalisasi.</p>
<p>Di era globalisasi ini segala sesuatu bisa dilakukan dengan cepat dari dan ke mana saja. Saat konsumen di Amerika menelpon <em>customer service </em>suatu perusahaan, kemungkinan besarnya adalah telepon mereka akan dijawab oleh seorang petugas <em>call center</em> yang berlokasi di India. Berita gempa di Indonesia segera tersiar di CNN dalam kurang dari 12 jam. Produk furnitur dari Jogja pun sudah banyak menghiasi kota London. Apa lagi yang tidak bisa kita lakukan di jaman internet ini? Membaca berita, membeli buku, menyaksikan pertandingan sepakbola, bahkan mencari jodoh pun sekarang bisa dilakukan melalui internet. Semuanya sudah seperti <em>Dji Sam Soe, </em>menembus batas! Kita pun tak ingin ketinggalan menjadi salah satu peserta globalisasi.<span id="more-145"></span></p>
<p>Di sini masalahnya. Saat kita membuka pintu bagi globalisasi, sudah siapkah masyarakat Indonesia? Sudah bisakah kita menciptakan produk global seperti Samsung yang beberapa tahun lalu masih menjadi produk gurem? Sudahkah para peneliti kita diminati oleh universitas dan lembaga penelitian besar di negara-negara maju layaknya para peneliti dari Cina, India, dan Korea Selatan? Atau yang lebih lokal, sudah sejauh manakah tingkat pendidikan masyarakat kita? Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang bisa membuat kita merasa seperti tenggelam di laut lepas.</p>
<p>Saat ini semakin banyak pusat-pusat budaya, bahasa, dan kajian regional di universitas-universitas luar negeri. Berkat usaha Ibu Pangesti Wiedarti, penulis <a href="http://www.milisbeasiswa.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=115&amp;Itemid=0" target="_blank"><em>Buku Kiat Memenangkan Beasiswa</em></a>, kini telah dibuka program studi bahasa Indonesia di beberapa universitas di luar negeri. Hal ini merupakan satu kemajuan yang menunjukkan eksistensi kita di ajang globalisasi. Ini juga bisa menjadi sebuah media promosi pariwisata dan investasi bagi Indonesia. Namun kemajuan di satu sisi harus juga diimbangi di sini lain. Promosi gencar di luar negeri harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dalam negeri. Kalau tidak, bisa terjadi ketimpangan di pasar global.</p>
<p>Coba bayangkan apa jadinya bila dunia luar mengenal dengan baik segala sesuatu tentang Indonesia sementara kita belum siap menyambut mereka? Bila mereka yang mempunyai kepentingan dengan Indonesia menguasai dengan baik data statistik dan karakteristik masyarakat kita, mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Program-program bagus yang kita lakukan mungkin saja bisa menjadi hal yang lebih menguntungkan bagi mereka. Mereka mungkin saja menggunakan kesempatan ini untuk memanfaatkan kita daripada bekerja sama dengan kita. Mengapa negara-negara lain harus bekerja sama dengan kita kalau kita masih kesulitan bernapas di rumah sendiri? Bukankah lebih mudah bagi mereka untuk memanfaatkan kita saja, toh mereka sudah mengenal Indonesia dengan baik? Pada akhirnya kita hanya akan menjadi sebuah pasar bagi siapapun untuk produk apapun. Ya benar, produk apapun: produk teknologi, ekonomi, sampai budaya. Starbucks, Blackberry, kerjasama pengeboran minyak, proyek restrukturisasi Aceh, sampai budaya meramaikan <em>mall</em> hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh betapa tingginya prospek Indonesia sebagai pasar. Belum lagi cadangan devisa minyak bumi Indonesia yang semakin menipis. Andai kita pun mempunyai kemampuan untuk mengolah kekayaan kita sendiri, kita yang akan bisa menentukan perjanjian kerjasamanya, bukan sebaliknya.</p>
<p>Globalisasi yang kita alami ini nampaknya masih terbatas pada level atas. Masih banyak lapisan masyarakat yang belum siap terjun ke dalamnya. Namun apa daya, sebagai sebuah bangsa di jaman modern ini mau tidak mau kita akan terjangkit sindrom <em>The World is Flat</em>, seperti dibahas oleh Tom Friedman. Dunia tidak akan menunggu kita. Jangan harap Amerika atau Jepang mau menunggu sampai Indonesia siap untuk menerima segala macam serangan globalisasi mereka. Coca-Cola, McDonald&#8217;s, Starbucks, dan produk global lain akan semakin merajai pasar dari tahun ke tahun seiring meningkatnya konsumerisme masyarakat Indonesia. Nilai realisasi Penanaman Modal Asing yang membaik di awal tahun 2007 kemarin belum cukup untuk kita jadikan sebagai indikasi kesiapan dan kompetensi masyarakat Indonesia secara merata. Kebijakan pemerintah yang <em>top-down</em> harus disertai dukungan nyata sampai ke level paling bawah. Pemerintah tidak boleh hanya mengeluarkan berbagai macam kebijakan dan meninggalkannya begitu saja. Tanpa sosialisasi yang baik itu semua tak akan efektif.</p>
<p>Jumlah penduduk yang besar ini harus mampu kita jadikan suatu nilai lebih. Nilai lebih yang bisa memberikan keuntungan bagi Indonesia, bukan bangsa lain. Malu rasanya jika kita bertengger di urutan ke-4 dunia dalam jumlah penduduk namun ternyata hanya berada di urutan ke-108 pada ranking Kualitas Sumber Daya Manusia 2006 yang dikeluarkan oleh UNDP. Sudah barang tentu ini kewajiban kita semua untuk bisa bersaing di ajang internasional. Masing-masing dari kita harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi. Kita harus benar-benar menjadi pemain global yang diperhitungkan dan muncul sebagai salah satu kekuatan baru Asia Pasifik, bukan sekedar penggembira. Siapa yang tak ingin melihat nantinya akan ada <em>franchise</em> Nasi Pecel tersebar di luar negeri? Kita juga berharap nama-nama profesor Indonesia tercetak di buku-buku teks terbitan McGraw Hill, Houghton Mifflin, dan Princeton Review bukan? Untuk itu kita membutuhkan suatu pembenahan mendasar yang sangat mendasar sehingga menyentuh tiap individu yang menghirup oksigen di Nusantara ini. Kitalah yang harus melakukannya. Jika pembenahan dari atas sulit dilakukan, maka kita mulai dari bawah. Jangan menunggu lagi, karena kita tak mau hanya jadi pasar!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/randomworld.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/randomworld.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/randomworld.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/randomworld.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/randomworld.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/randomworld.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/randomworld.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/randomworld.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/randomworld.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/randomworld.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=145&subd=randomworld&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://randomworld.wordpress.com/2008/11/12/globalization-are-we-in/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0bf6d58ca0362227d3bd364bc1c2ad5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fenomena: Kapitalisme di Indonesia</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/07/fenomena-kapitalisme-di-indonesia/</link>
		<comments>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/07/fenomena-kapitalisme-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 21:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[modal]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>
		<category><![CDATA[perekonomian]]></category>
		<category><![CDATA[Roti Bakar Khas Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[warung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya, saya kurang setuju bila Indonesia tidak dikategorikan sebagai negara kapitalis seperti Amerika Serikat. Di Indonesia hampir semua orang, asal punya uang, bisa menjalankan bisnis. Di Amerika, belum tentu.
Di Amerika, yang punya modal besar akan menguasai pasar. Yang modalnya kecil meramaikan pasar. Kredit untuk bisnis bisa dikatakan accessible, tapi tidak mudah dan sangat selektif. Tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=119&subd=randomworld&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebenarnya, saya kurang setuju bila Indonesia tidak dikategorikan sebagai negara kapitalis seperti Amerika Serikat. Di Indonesia <span style="text-decoration:line-through;">hampir </span>semua orang, asal punya uang, bisa menjalankan bisnis. Di Amerika, belum tentu.</p>
<p>Di Amerika, yang punya modal besar akan menguasai pasar. Yang modalnya kecil meramaikan pasar. Kredit untuk bisnis bisa dikatakan <em>accessible</em>, tapi tidak mudah dan sangat selektif. Tidak semua orang bisa membuka bisnis. Peraturan perpajakan dan hukum bisnis yang ketat membuat wirausaha tidak semudah membuka warung kaki lima di Indonesia. Catat, menurut teman saya yang sudah 7 tahun menjadi peracik makanan buka puasa favorit Cinta Laura, <em>Sushi</em>, untuk <em>start-up</em> sebuah restoran sederhana dibutuhkan kira-kira <span id="more-119"></span>$300ribu! Dengan uang sebesar itu kita hanya akan mendapat sewa tempat untuk beberapa bulan saja karena sebagian besar biaya akan dipakai untuk pengadaan peralatan restoran, perizinan dan sertifikasi, persediaan bahan makanan, dan tentunya persiapan atau renovasi restoran. Kalau bisnis sepi, bisa-bisa modal hanya tersedot di tagihan listrik dan biaya sewa yang rata-rata $5,000 di daerah Washington DC.</p>
<p>Pengalaman kerasnya alam bisnis di Amerika dialami teman saya beberapa bulan lalu. Teman saya yang mencoba berbisnis itu mengalami kerugian sekitar $30ribu dalam waktu kurang dari 1 tahun.</p>
<p>Di Indonesia, hampir semua orang bisa membuka bisnis. Kredit usaha sebenarnya pun tidak begitu sulit. Jika bank tidak bersedia memberi pinjaman, kita bisa mencoba meminjam pada kerabat atau orang lain yang punya kelebihan modal. Regulasi pun belum seketat di Amerika. Menjual sesuatu tidak harus di toko. Teras rumah bisa disulap menjadi tempat jualan. Dari penuturan teman saya yang tahun lalu membuka usaha kuliner di Jakarta, ia hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp20-30juta. Bandingkan dengan $300ribu di Amerika.</p>
<p>Satu hal yang menjadi isu besar dalam berbisnis di Amerika adalah pajak. Tingkat pajak yang tinggi, mencapai kisaran 30%, mengakibatkan pemerintah harus memberi insentif khusus bagi wirausahawan. Di Indonesia, pebisnis kecil tak perlu terlalu khawatir untuk meminta insentif khusus, atau tepatnya tak usah khawatir dengan pajak. Siapa yang akan menghitung pajak yang mesti dibayar warung nasi bungkus di setiap ruas jalan di Jogja? Siapa juga yang tahu penghasilan tiap malam warung-warung tenda dan kafe-kafe yang selalu ramai anak muda? Tetangga saya di Indonesia, dalam beberapa tahun berjualan nasi bungkus sudah mampu membeli sepeda motor Honda keluaran paling anyar.</p>
<p>Bisnis apapun ada di Indonesia. Mau counter pulsa HP, warung tenda, penjual kacamata hitam di pinggir jalan, penjual kelinci, panti pijat, tukang cat <em>freelance</em>, bengkel motor dan tambal ban <em>24-hour</em>, tukang pangkas rambut Madura&#8230;<em>you name it, we have it</em>. Bisnis-bisnis yang di Amerika butuh <em>license </em>bisa dijalankan dengan mudah di Indonesia. Bahkan tukang potong rambut pun perlu lisensi khusus di Amerika. Tanpa lisensi khusus potong rambut, seseorang yang memotong rambut secara komersil bisa didenda yang besarnya mungkin lebih dari yang ia dapat dari memotong rambut selama 3 bulan.</p>
<p>Bicara soal modal, Indonesia lebih fleksibel. Atmosfer kapitalisme dimana yang bermodal besar menguasai pasar sangat terlihat di Amerika. Tapi di Indonesia, siapa yg mau bekerja keras, dialah yg bakal menguasai pasar. Di Amerika, posisi Wal-Mart sangat mengancam toko-toko eceran kecil. Di Indonesia, Carrefour dan Giant belum sampai pada posisi itu. Kalaupun di Jakarta sudah mulai terasa, di daerah masih banyak peluang. Minimarket dan supermarket lokal masih mempunyai peran strategis. Minimarket Mirota dan Putera Kampus adalah contoh toko-toko lokal yang berbagi <em>market share</em> cukup besar di Jogja.</p>
<p>Warung-warung tenda di Indonesia bisa mendatangkan ratusan ribu rupiah semalam hanya dengan bermodal 2 buah kompor, beberapa alat penggorengan, beberapa lembar tikar, dan sebuah tenda. Di Amerika, tak peduli apa jenis makanan yang dijual, setiap rumah makan harus mempunyai seperangkat alat masak yang sudah mendapat izin berdasarkan regulasi pemerintah. Ditambah lagi inspeksi acak yang dilakukan untuk memastikan restoran-restoran ini memenuhi standar kesehatan. Di Indonesia, siapa yang menginspeksi restoran Ayam Goreng Mbok Berek atau Soto Pak Sadi? Mungkin saya yang menginspeksi apakah rasanya masih mantap.</p>
<p>Di tingkat bawah menjamurnya kafe, warung tenda, warnet, rental VCD-DVD merupakan gambaran nyata kapitalisme di Indonesia. Belum ketatnya regulasi bisnis di negeri ini seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai momen naiknya peran wirausahawan sebagai pemain utama ekonomi bangsa. Sebagaimana misi <a href="http://www.wirausahamuda-mandiri.com/" target="_blank">Wirausahawan Muda Mandiri</a> yang dicetuskan Bank Mandiri untuk meningkatkan jumlah wirausahawan di Indonesia dimana <a href="http://blog.diansastrowardoyo.net/category/wirausaha-muda-mandiri/" target="_blank">Dian Sastro ikut menjadi dutanya</a>.</p>
<p>Punya modal sedikit bukanlah halangan untuk berbisnis di Indonesia. Pernah terpikir untuk membuka warung kaki lima? Kenapa tidak? Gengsi? Kalau akhirnya bisa menjadi sumber penghasilan yang melebihi pekerjaan karyawan berdasi kenapa mesti malu?</p>
<p>Pernah makan roti bakar yang gerobaknya bertuliskan &#8220;Roti Bakar Khas Bandung&#8221;, kan? Dengan logo tulisannya yang melengkung dengan ukuran huruf dan kemiringan yang sama di setiap gerobak di seluruh  Indonesia, bisnis ini bisa menjadi sesuatu yang menggiurkan. Saya pernah bertanya pada seorang penjual Roti Bakar Khas Bandung tentang berapa banyak rata-rata roti yang terjual setiap malam. Si bapak penjual mengatakan bahwa rata-rata rendahnya kalau tidak begitu ramai bisa mencapai 50 roti per malam. Harga per roti bakar berkisar Rp 4.000-8.000. Ambil saja Rp 5.000 sebagai rata-rata nilai penjualan tiap roti, kalikan 50 buah. Hasilnya = Rp 250.000 per malam = Rp 7,5 juta per bulan! Memang itu masih pendapatan kotor. Ambil lagi skenario umum dimana pada bisnis makanan biasanya 20%-40% pendapatan kotor adalah profit (angka ini rata-rata profit restoran di Amerika, untuk bisnis roti bakar di Indonesia ini angkanya mungkin berbeda). Dengan perhitungan kasar ini (ambil saja 30%), pendapatan bersih perbulan = Rp 2,25 juta. Ini masih bisa naik dan juga bisa turun. Bukankan hal ini sesuatu yang <em>worth trying</em>?</p>
<p>Tak ada waktu untuk membolak-balik roti di atas wajan semalaman? Beli saja gerobaknya beberapa buah, stok roti dan aneka rasanya, lalu bayar orang lain untuk menjualnya. <em>Pasive income</em> yang turut membuka lapangan kerja.</p>
<p>Kita pasti bisa mengambil manfaat dari sebuah kedaan. Dengan kondisi perekonomian dan regulasi bisnis di Indonesia sekarang, usaha-usaha bisnis seperti ini justru bisa menjadi pilihan dan menjadi penggerak utama perekonomian. Belum lagi jika kita bisa memanfaatkan sikap konsumerisme masyarakat kita di segmen bawah. Karena di tingkat inilah masyarakat berinteraksi setiap harinya dan di sinilah uang mereka berputar.</p>
<p>Kapitalisme tak perlu menjadi monster mengerikan bagi sebuah perekonomian. Tak perlu konglomerat mengusai pasar dengan monopoli. Karena hakekatnya adalah siapapun yang mempunyai modal bisa menjalankan bisnis.</p>
<p><em>The bottom line</em>: Banyak peluang bisnis skala kecil di Indonesia. Resiko kerugiannya pun tidak begitu besar. Kapitalisme di Indonesia = Peluang Bisnis yang Menggiurkan. Siap mencoba?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/randomworld.wordpress.com/119/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/randomworld.wordpress.com/119/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/randomworld.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/randomworld.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/randomworld.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/randomworld.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/randomworld.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/randomworld.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/randomworld.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/randomworld.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/randomworld.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/randomworld.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=119&subd=randomworld&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/07/fenomena-kapitalisme-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0bf6d58ca0362227d3bd364bc1c2ad5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Penampilan Harus Selalu Relevan dengan Pekerjaan?</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/06/apakah-penampilan-harus-selalu-relevan-dengan-pekerjaan/</link>
		<comments>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/06/apakah-penampilan-harus-selalu-relevan-dengan-pekerjaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 23:45:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bincang]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Ngalor-ngidul]]></category>
		<category><![CDATA[hairstylist]]></category>
		<category><![CDATA[penampilan]]></category>
		<category><![CDATA[penata rambut]]></category>
		<category><![CDATA[salon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Apakah penampilan kita harus selalu relevan dengan jenis pekerjaan kita? Malah ada yang bilang bahwa penampilan secara otomatis mencerminkan pekerjaan kita. Contoh gampangnya ya businessman yang tampil necis berdasi dan berjas, profesor yang berkacamata, polisi yang berambut cepak dan tegap, atau hairstylist yang rambutnya pasti gayanya tidak mudah ditiru manusia biasa.
Nah, mari kita fokuskan pembicaraan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=120&subd=randomworld&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Apakah penampilan kita harus selalu relevan dengan jenis pekerjaan kita? Malah ada yang bilang bahwa penampilan secara otomatis mencerminkan pekerjaan kita. Contoh gampangnya ya <em>businessman </em>yang tampil <em>necis </em>berdasi dan berjas, profesor yang berkacamata, polisi yang berambut cepak dan tegap, atau <em>hairstylist </em>yang rambutnya pasti gayanya tidak mudah ditiru manusia biasa.</p>
<p>Nah, mari kita fokuskan pembicaraan pada contoh yang terakhir, <em>hairstylist</em>. Kalau kamu pergi ke salon, bisalah langsung menebak mana yang penata rambut mana yang rambutnya perlu ditata. Sebenarnya dengan hanya melihat seragam yang dipakai sih sudah terlihat mana yang penata rambut. Tapi seragam saja tidak afdol. Bagi yang pria tidak harus jadi banci (meski kebanyakan sih begitu), paling tidak seorang penata rambut mempunyai gaya rambut yang oke donk. Kalau rambutnya saja tidak sedap dipandang bisa-bisa ungkapan ini menusuk hati mereka, &#8220;<em>sebelum menata rambut orang lain, tata rambutmu sendiri terlebih dahulu</em>&#8220;. Wajar,kan? Ya iyalah, masa<span id="more-120"></span>&#8230;nggak jadi nerusin deh nanti dikira korban iklan hehe&#8230;</p>
<p>Nah, ibaratnya apa yang ada di pikiranmu kalau pelatih renangmu seperti orang yang belum bisa berenang? Itulah yang saya alami di penghujung Agustus lalu. Bak orang linglung, saya masih belum sadar bahwa yang akan memotong rambut saya adalah seorang pria yang lebih mirip orang yang peru ditata rambutnya ketimbang seorang penata rambut. Saya sempt <em>shock </em>di kursi salon. Saya benar- benar tidak percaya kalau dia itu seorang penata rambut, dan yang lebih penting, yang akan memotong rambut saya. Bahkan kalaupun dia bersumpah dan bersimbah di ujung jempol, saya masih tidak percaya. Bayangin aja, udah rambutnya nggak tertata, kaosnya berwarna daun kering layu, wajah kusam, dan napas bau rokok! &#8220;<em>Eeeuw&#8230;it&#8217;s disgusting, no way!</em> <em>Masya syeorang hairstylist nggak stylish, sich?</em>&#8221; kata Cincha Wauwa.</p>
<p>Busyet&#8230;aku tertipu lagi, uwo uwo&#8230;! Tapi, kan ada pepatah &#8220;Jangan menilai buku dari sampulnya&#8221;. Berbekal  optimisme dan harapan yang cerah, saya jalani proses potong rambut yang biasa dlakukan 2 bulan sekali itu dengan adrenalin terpacu seperti naik motor tanpa helm dan SIM. Hasil optimisme dan harapan saya: tidak jelas. Dan saya terpaksa menghentikannya memotong rambut saya pada menit ke-19. Kalau tidak, habis lah sudah!</p>
<p>Moral of the story: Jangan menilai buku dari sampulnya, tapi kalau mau potong rambut liat dulu orangnya. Percaya deh, untuk kebaikan diri kamu sendiri lebih baik <em>play it save</em> daripada berharap keajaiban. Dan menurut saya penampilan memang harus selalu relevan dengan pekerjaan. Paling tidak untuk meyakinkan calon klien.</p>
<p>Apakah penampilanmu relevan dengan pekerjaanmu?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/randomworld.wordpress.com/120/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/randomworld.wordpress.com/120/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/randomworld.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/randomworld.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/randomworld.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/randomworld.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/randomworld.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/randomworld.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/randomworld.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/randomworld.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/randomworld.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/randomworld.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=120&subd=randomworld&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/06/apakah-penampilan-harus-selalu-relevan-dengan-pekerjaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0bf6d58ca0362227d3bd364bc1c2ad5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Opinionated Writer, How Far Would You Go?</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/05/08/how-far-would-we-go/</link>
		<comments>http://randomworld.wordpress.com/2008/05/08/how-far-would-we-go/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 16:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bincang]]></category>
		<category><![CDATA[Etika]]></category>
		<category><![CDATA[etika menulis]]></category>
		<category><![CDATA[freedom of speech]]></category>
		<category><![CDATA[manipulative writer]]></category>
		<category><![CDATA[opinionated writer]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Main Entry: opin·ion·at·ed 
Pronunciation: \-yə-ˌnā-təd\ 
Function: adjective 
Date: 1601 
: unduly adhering to one&#8217;s own opinion or to preconceived notions
— opin·ion·at·ed·ly adverb
— opin·ion·at·ed·ness noun

Mirriam Webster
Pronunciation: (u-pin&#8217;yu-nā&#8221;tid), [key]
—adj.
obstinate or conceited with regard to the merit of one&#8217;s own opinions; conceitedly dogmatic.

Random House Unabridged Dictionary, Copyright © 1997, by Random House, Inc., on Infoplease.

Dewasa ini blog sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=118&subd=randomworld&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><dt>Main Entry: <span class="variant">opin·ion·at·ed</span> <a class="audio" href="popWin('/cgi-bin/audio.pl?opinio03.wav=opinionated')"></a></dt>
<dt>Pronunciation: <span class="pronchars">\-yə-<span class="unicode">ˌ</span>nā-təd\</span> </dt>
<dt>Function: <em>adjective</em> </dt>
<dt>Date: 1601 </dt>
<div class="defs"><span class="sense_content"><strong>:</strong> unduly adhering to one&#8217;s own opinion or to preconceived notions</span></div>
<div class="run_on">— <span class="variant">opin·ion·at·ed·ly</span> <em>adverb</em></div>
<div class="run_on">— <span class="variant">opin·ion·at·ed·ness</span> <em>noun</em></div>
<div class="run_on"><em></em></div>
<div><em><em>Mirriam Webster</em></em></div>
<div><em><em>Pronunciation: </em><span class="serif">(<em>u</em>-pin&#8217;y<em>u</em>-nā&#8221;tid),</span> <a href="http://www.infoplease.com/pronkey.html" target="_blank"><span style="color:#003399;">[key]</span></a><br />
—<em>adj.</em><br />
obstinate or conceited with regard to the merit of one&#8217;s own opinions; conceitedly dogmatic.</em></div>
<p><!--/BodyText--></p>
<p class="source"><em><em>Random House Unabridged Dictionary,</em> Copyright © 1997, by Random House, Inc., on Infoplease.</em></p>
<p class="source">
<p class="source">Dewasa ini blog sudah menjadi <em>frontline</em> banyak dari kita dalam berinteraksi dengan dunia luar. Blog bersifat bebas, baik dari segi teknik penulisan, isi tulisan, dan sebagainya. Karena sifatnya yang sangat bebas ini, blog kemudian seakan-akan dijadikan sebuah tameng anti peluru bagi beberapa orang dalam menyampaikan pendapatnya.</p>
<p class="source">Kita tinggalkan dulu blog yang berisi curhat harian atau ulasan teknis teknis Linux. Blog-blog itu relevan bagi yang berkepentingan. Siapa yang peduli curhatan saya kecuali saya sendiri? Siapa yang peduli perkembangan Linux selain para komputer mania. Blog-blog ini <em>audience profil</em>e-nya spesifik. Hanya orang-orang tertentu yang akan membaca tulisan di dalamnya hingga tuntas.</p>
<p class="source">Namun ada blog-blog lain yang <em>audience profile</em>-nya lebih luas karena sang blogger memang tidak menulis tentang masalah teknis yang spesifik. <span id="more-118"></span>Blog-blog ini umunya berisikan opini atau pendapat sang blogger terhadap suatu masalah. Sudah layaknya Kolom Opini di koran-koran, tulisan dalam blog ini sangat dipengaruhi oleh sang penulis. Bahkan, karena blogger menulis di blog, mereka bisa lebih bebas dalam menyampaikan pendapatnya. Proporsi opini dan fakta atau kebenaran ilmiah sering tidak berimbang.</p>
<p class="source">
<p class="source">Saya rasa, sebagian besar blog yang ada sekarang ini (termasuk blog ini) bisa dikategorikan sebagai blog opini dimana beberapa blogger menyebut diri mereka sebagai <em>opinionated writer</em>. Dari pemahaman saya dari perbincangan dengan beberapa blogger, yang mereka maksud dengan <em>opinionated writer</em> adalah bahwa mereka menulis sebagai hasil dari pemikiran mereka. Ini seperti menjawab pertanyaan, &#8220;<em>Apa pendapatmu tentang &#8230;?</em>&#8221; Dan satu hal yang ditekankan (oleh <em>opinionated writer</em>) adalah bahwa kita harus menghargai <em>freedom of speech</em> dan menerima perbedaan. Tidak jauh seperti yang selalu diteriakkan pengusung <em>freedom of speech</em> terbesar di bumi ini (kita tahu siapa itu) yang ternyata juga membangun tembok-tembok kaca bagi suara yang tidak diinginkan.</p>
<p class="source">Kembali ke dunia blogging dan <em>opinionated writer</em>, biasanya blog mereka lebih banyak mengundang komentar daripada blog yang cenderung menyajikan fakta-fakta yang membosankan. Membaca komentar-komentarnya terkadang terasa lebih mengasyikkan daripada artikel yang dikomentari itu sendiri. Ini, sekali lagi, karena interaksi di dunia maya sangatlah bebas. Kebebasan ini kadang digunakan oleh beberapa orang untuk tampil dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya mereka mengerti dan pahami. Tak akan ada yang akan mempertanyakan integritas akademis seperti kredibilitas sumber informasi artikel, keaslian tulisan, dan pertanggung jawaban moral. Dan memang, seseorang tak harus menjadi ahli untuk menulis di blog tentang suatu isu yang sangat teknis dan sensitif sekalipun.</p>
<p class="source">Karena sifat interaksi blog yang bebas, <em>freedom of speech</em>, sikap menerima perbedaan pendapat, dan siapa saja bisa menulis ini, seharusnya seorang <em>opinionated writer</em> menekankan bahwa yang tertulis di dalam artikelnya adalah hasil pemikirannya sendiri dan bukan sebuah sajian fakta. Memang benar bahwa sajian fakta bisa dijadikan diskusi menarik. Tapi penekanan bahwa sang <em>opinionated writer-</em>lah yang membuat fakta itu tampak berbeda sangat penting. Kata-kata seperti, &#8220;Menurut pendapat saya&#8221;, &#8220;Dalam pandangan saya&#8221;, atau kata-kata yang lain yang bisa memberi pemahaman bahwa pembaca sedang mendengarkan pendapat sang penulis tidak dapat disepelekan. Artikel macam ini lebih bersifat subjektif daripada objektif karena memang ditulis dari opini seseorang.</p>
<p class="source">Kalau subjektifitas dilupakan, kecurigaan yang bisa dilayangkan adalah: <em>misleading or lack of knowledge</em>. Seperti survey murahan untuk tujuan marketing yang mengatakan, &#8220;7 dari 10 wanita menggunakan&#8230;&#8221; Angka 7 dan 10 itu tidak menggambarkan apa-apa kecuali maksud untuk menutupi sesuatu dan memaksakan pesan. Dari mana kesimpulan 7 dari 10 itu berasal? Kalau memang hanya 10 orang yang disurvey dan kebetulan 7 orang di antaranya menggunakan merek X, apakah kita lantas percaya atau membenarkannya? Ada ratusan juta manusia (di Indonesia saja), dan 10 orang tidak cukup untuk mewakili suara mereka. Statistik yang tidak disajikan dengan lengkap bisa menyesatkan.</p>
<p class="source">Bagi saya, hal di atas sama buruknya dengan melupakan subjektifitas dalam tulisan kita. Apakah pemikiran kita begitu hebatnya hingga kita tak perlu lagi mengatakan bahwa tulisan kita semata-mata hasil pemikiran manusia biasa? Ataukah kita terlalu malu bahwa tulisan tersebut merupakan hasil pemikiran kita? Mengatakan bahwa &#8220;<em>Freedom of speech</em> itu buruk&#8221;, tanpa memperjelas bahwa kita yang berpendapat demikian bisa menunjukkan arogansi yang menyesatkan. Informasi semestinya disajikan secara utuh. Kita berada di sisi mana itu urusan lain. Terlebih saat kita menuliskan pendapat kita yang secara kasat mata berseberangan dengan fakta (atau kebenaran umum) yang ada.</p>
<p class="source">Secara ilmiah  kita tidak bisa membuat suatu pernyataan yang bertentangan dengan suatu fakta kecuali itu adalah pendapat kita sendiri. Kita bukan berusaha mewakili fakta tersebut. Bahkan sebaliknya, kita berada di sisi yang lain. Mengatakan bahwa &#8220;Matahari adalah pusat tata surya&#8221; tanpa membubuhkan (misalnya) kata &#8220;menurut pendapat saya&#8221;, membuat kita seolah sedang menyuarakan suatu kebenaran. Penyampaian kesimpulan semacam ini yang sering dilakukan oleh para blogger karena kebebasan berkomunikasi di dunia maya. Bahkan dengan bukti-bukti ilmiah yang cukup pun, semestinya kita tetap menunjukkan subjektifitas karena kita menulis dari sudut pandang kita.</p>
<p class="source">Satu hal lagi yang mungkin bisa kita jadikan acuan sebagai <em>opinionated writer</em> adalah sejauh mana kita akan menulis tentang sesuatu yang tidak sepenuhnya kita pahami. Meskipun <em>opinionated writer</em> menulis berdasarkan pendapatnya yang didukung oleh <em>freedom of speech</em>, kita tetap harus tetap menulis dengan penuh tanggung jawab. Jika ada yang pantas menerima pujian atau kecaman, itu kita- bukan orang lain. Jika kita meneriakkan semangat menerima perbedaan akan pendapat kita, tapi kita menutup mata dan telinga kita dari komentar-komentar yang tidak menyenangkan, bukankan ini justru mendorong kita pada sikap hipokrasi? Banyak sekali video di YouTube dengan pesan yang sangat sensitif dimana sang <em>uploader</em> secara tegas mengatakan, &#8220;Komentar negatif akan dihapus.&#8221;</p>
<p class="source"><em>The bottom line</em>: <em>opinionated writer</em> juga harus memperhatikan etika dalam menulis. <em>Opinionated </em>bukan <em>manipulative</em>. <em>Opinionated writer</em> menulis dari hasil pemikiran yang cerdas dan sehat yang tidak menyesatkan maupun kurang berpengetahuan.</p>
<p class="source"><em>I mean, come on guys, even my 68 year-old grandma can be an opinionated writer, if she knows how to use a computer</em>. <em>Sure, she has a lot of opinion&#8230; about anything</em>.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/randomworld.wordpress.com/118/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/randomworld.wordpress.com/118/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/randomworld.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/randomworld.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/randomworld.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/randomworld.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/randomworld.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/randomworld.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/randomworld.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/randomworld.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/randomworld.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/randomworld.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=118&subd=randomworld&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://randomworld.wordpress.com/2008/05/08/how-far-would-we-go/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0bf6d58ca0362227d3bd364bc1c2ad5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa Susahnya Sih Membaca?</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/03/25/apa-susahnya-sih-membaca/</link>
		<comments>http://randomworld.wordpress.com/2008/03/25/apa-susahnya-sih-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 20:14:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ngalor-ngidul]]></category>
		<category><![CDATA[awas anjing galak]]></category>
		<category><![CDATA[Dan Brown]]></category>
		<category><![CDATA[Leo Tolstoy]]></category>
		<category><![CDATA[literature]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[stress]]></category>
		<category><![CDATA[William Shakespeare]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Yang saya maksud dengan membaca di sini bukanlah membaca tingkat tinggi macam membaca novel intelek a la Deception Pointnya Dan Brown apalagi literature karya Leo Tolstoy dan William Shakespeare. Itu jelas susah dan berat. Membaca yang saya maksud adalah membaca kata/frase/kalimat atau peringatan yang sering tertera di formulir, muncul di monitor komputer, atau tertempel di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=109&subd=randomworld&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://randomworld.files.wordpress.com/2008/03/22930756_4b5418925d.jpg" title="22930756_4b5418925d.jpg"></a><a href="http://randomworld.files.wordpress.com/2008/03/22930756_4b5418925d.jpg" title="22930756_4b5418925d.jpg"><img src="http://randomworld.files.wordpress.com/2008/03/22930756_4b5418925d.thumbnail.jpg?w=87&#038;h=131" alt="22930756_4b5418925d.jpg" align="left" border="0" height="131" width="87" /></a>Yang saya maksud dengan membaca di sini bukanlah membaca tingkat tinggi macam membaca novel intelek a la <i>Deception Point</i>nya<i> Dan Brown</i> apalagi <i>literature</i> karya <i>Leo Tolstoy</i> dan <i>William Shakespeare.</i> Itu jelas susah dan berat. Membaca yang saya maksud adalah membaca kata/frase/kalimat atau peringatan yang sering tertera di formulir, muncul di monitor komputer, atau tertempel di kaca pintu/jendela. Misalnya stiker bertuliskan: <i>Awas anjing galak!</i> Bukan hal yang sulit untuk dibaca bahkan dimengerti, kan?</p>
<p>Membaca hal-hal kecil seperti ini terlihat cukup sepele hingga mungkin sudah tidak masuk kategori membaca lagi. <span id="more-109"></span>Padahal membaca yang demikian tak kalah pentingnya dari membaca karya-karya <i>literature</i>. Begitu pentingnya membaca hal-hal kecil ini sampai bisa membuat kita terlihat bodoh (kalau belum memang bodoh) saat kita melewatkan hal-hal minor tersebut hingga kita terjebak dalam kepanikan yang tak jelas dan tak perlu. Padahal itu semua bisa dihindari kalau kita mau sedikit lebih tenang dan membaca apa yang tertulis. Kecuali kalau Anda masih tetap tidak bisa membaca meskipun telah berkonsentrasi maksimal karena ada gangguan pada mata Anda atau karakter bahasa asing yang sulit dimengerti. Apa susahnya sih membaca?</p>
<p>Beberapa hari yang lalu saya mempunyai pengalaman tentang membaca. Seseorang yang saya kenal bermaksud melakukan transfer uang melalui <i>Money Gram</i> ke seseorang yang lain. Dengan kilat ia hanya mengisi bagian Nama Pengirim dan Nama Penerima beserta jumlah uangnya lalu menyerahkannya pada petugas. Tak pelak lagi sang petugas menanyakan negara dan kota tujuan transfer serta alamat pengirim. Kontan saja saya geleng-geleng kepala dan hendak tertawa jadi-jadian. Dikiranya yang punya nama seperti si penerima itu hanya satu di dunia ini? Padahal jelas-jelas tercetak dengan huruf yang mudah terbaca, tetap saja tak terbaca (atau tidak dibaca). Apa susahnya sih memberi sedikit perhatian pada hal-hal kecil seperti ini? Ya, alasannya adalah itu merupakan kali pertamanya transfer memakai <i>Money Gram</i>. (Seperempat) Diterima.</p>
<p>Pengalaman yang berbeda, di kantor. Lagi-lagi hal konyol selain <a href="http://randomworld.wordpress.com/2008/03/18/apa-susahnya-sih-stapling/" target="_blank"><i>stapling</i> </a>terjadi di kantor. Menyaksikan seseorang melewatkan membaca hal-hal kecil selain bisa menjadi hiburan di tengah <i>stress</i> ternyata juga bisa menambah <i>stress</i> itu sendiri. Pembaca yang budiman, Anda semua pernah melihat dan mengoperasikan sebuah printer kan? Saya tertawa dalam sedih demi melihat seorang lulusan universitas ternama harus panik melihat sebuah printer berhenti mencetak dokumen-dokumennya setelah hanya beberapa lembar. Kepanikannya bertambah kala melihat lampu kecil merah berkelap-kelip di dekat <i>information screen</i> di muka printer. Halooo&#8230;kalau printer berhenti mencetak dan lampu kecil merah di dekat layar informasi menyala, apa yang harus kita lakukan? <i>Ups, there&#8217;s the hint!</i> Layar informasi. <i>Read what&#8217;s on it!</i></p>
<p>Di tengah kepanikan, ia bertanya pada sang manajer. Sang manajer menjelaskan dengan gaya bodohnya bahwa si printer perlu makan, yaitu kertas! Dan dengan ekspresi bodoh yang tak kalah bodohnya, karyawan yang panik tadi balik bertanya, &#8220;<i>Kok tahu?</i>&#8221; Padahal dia mengaku telah membaca puluhan buku, buku sungguhan bukan buku teks. <i>This is about the time when I should feel bad about reality</i>. Apapun alasannya: Tidak Diterima.</p>
<p>Masih banyak cerita di kantor yang konyol dan menyedihkan tentang (melewatkan) membaca hal-hal kecil. Apa susanya sih membaca? Syukurlah, <a href="http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2008/02/28/berbudaya-itu-seru/#comment-1884" target="_blank">Berburu </a>memasukkan materi akan pentingnya membaca dalam kurikulumnya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/randomworld.wordpress.com/109/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/randomworld.wordpress.com/109/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/randomworld.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/randomworld.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/randomworld.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/randomworld.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/randomworld.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/randomworld.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/randomworld.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/randomworld.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/randomworld.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/randomworld.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=109&subd=randomworld&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://randomworld.wordpress.com/2008/03/25/apa-susahnya-sih-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0bf6d58ca0362227d3bd364bc1c2ad5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ian</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://randomworld.files.wordpress.com/2008/03/22930756_4b5418925d.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">22930756_4b5418925d.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepatu Piero: Pengasingan Produk Lokal</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/03/21/sepatu-piero-pengasingan-produk-lokal/</link>
		<comments>http://randomworld.wordpress.com/2008/03/21/sepatu-piero-pengasingan-produk-lokal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Mar 2008 02:17:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bincang]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Ngalor-ngidul]]></category>
		<category><![CDATA[Alessandro Del Piero]]></category>
		<category><![CDATA[Oerip]]></category>
		<category><![CDATA[Office Boy]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu Piero]]></category>
		<category><![CDATA[Urip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Judul posting ini bukanlah tentang sebuah produk yang terpinggirkan dari industrinya. Ini lebih kepada caranya masuk dan diterima pasar seperti banyak produk buatan Indonesia lainnya.
Saat pertama kali iklannya muncul di layar kaca, saya pikir sepatu ini terlalu blak-blakan dalam memanfaatkan ketenaran bintang sepakbola Italia yang nama belakangnya dijadikan nama sepatu ini, Alessandro Del Piero. Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=107&subd=randomworld&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://randomworld.files.wordpress.com/2008/03/piero03.jpg" title="piero03.jpg"><img src="http://randomworld.files.wordpress.com/2008/03/piero03.jpg?w=159&#038;h=217" alt="piero03.jpg" align="left" height="217" width="159" /></a>Judul posting ini bukanlah tentang sebuah produk yang terpinggirkan dari industrinya. Ini lebih kepada caranya masuk dan diterima pasar seperti banyak produk buatan Indonesia lainnya.</p>
<p>Saat pertama kali iklannya muncul di layar kaca, saya pikir sepatu ini terlalu blak-blakan dalam memanfaatkan ketenaran bintang sepakbola Italia yang nama belakangnya dijadikan nama sepatu ini, Alessandro Del Piero. Dan saya perkirakan sepatu Piero ini hanya akan menjadi satu dari sekian penggembira di dunia persepatuan Indonesia. Tampaknya dua tebakan saya cukup salah.<span id="more-107"></span></p>
<p>Pertama, ternyata nama Piero bukan berasal dari nama belakang sang bintang sepakbola. Justru nama sepatu berasal dari kelokalan yang sama dengan pabrikannya. Menurut sumber yang sangat bisa dipercaya karena terlibat dalam peluncuran perdana sepatu ini, nama Piero tercipta saat para punggawa perusahaan berpikir keras demi mendapatkan nama sepatu yang bisa diterima pasar. Sepatu lokal tapi terdengar seperti buatan luar negeri. Tak ada hubungannya dengan sepakbola ataupun Italia jika akhirnya nama Piero muncul.</p>
<p>Berikut ini cerita berdasar catatan dari sumber yang saya sebutkan di atas.</p>
<p>Suatu ketika, tersebutlah seorang Office Boy teladan yang disukai semua orang di sebuah kantor. Saat matahari semakin memenuhi ruangan rapat, pendiri perusahaan, investor, manajer, dan orang-orang marketing plus advertising itu memutuskan untuk memesan minuman agar pikiran kembali segar. Dipanggillah sang Office Boy.</p>
<p>&#8220;Rip, bikinin minum ya?&#8221; perintah salah seorang (manajer?) untuk Urip si OB.</p>
<p>&#8220;Siap, Pak.&#8221; jawab si OB. Bagi sebagian orang, Jawa Timur (khususnya Malang) dikenal dengan pembolak-balikan kata yang memerlukan keahlian otak cukup tinggi. &#8220;Ayas aro itreng&#8221; artinya &#8220;saya ora ngerti&#8221; (saya tidak mengerti). Demikian juga nama si OB dibolak-balik karena pikiran sedang mumet.</p>
<p>&#8220;Urip. Piru. Ejaan lamanya Oerip. Pireo. Dikit lagi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Pireo. Piero.&#8221; celetuk seseorang lain.</p>
<p>&#8220;Itu dia! Ya, Piero! Piero!&#8221;</p>
<p>Demikianlah tercipta merk sepatu baru Piero. Bukan dari seorang bintang sepakbola. Dari seorang OB, Mas Urip. Produk lokal, nama lokal, kesan internasional.</p>
<p>Kedua, tentang dugaan saya atas nasib Piero sebagai produk sepatu lokal. Ternyata Piero membuktikan bahwa performanya layak diperhitungkan di pasar sepatu nasional. Meski sangat sulit untuk mendapatkan data penjualan yang akurat dari sepatu Piero (dikarenakan tidak adanya website resmi Piero) , saya pikir Piero cukup mempunyai <i>market share</i> yang signifikan dibanding merk-merk lokal lain.</p>
<p>Gencarnya iklan Piero di media cetak maupun televisi membuat saya yakin bahwa sepatu ini mempunyai masa depan di Indonesia. Apakah itu karena inovasi dan varian produk yang bersaing, marketing yang agresif, ataupun imej luar negeri yang dipancarkan dari namanya,  sudah saatnya Indonesia mempunyai merk andalannya sendiri.</p>
<p>Piero, seperti beberapa produk lain, secara langsung atau tidak dan disadari atau tidak, mengalami peng<i>asing</i>an imej. Apakah ini merupakan kondisi pasar di mana produk-produk yang terdengar asing lebih mudah diterima, hanya pasar yang tahu. Kalau ternyata benar begitu, hal membuat kita merasa bahwa masyarakat kita masih cukup <i>shallow </i>dalam memilih produk. Produsen sampai harus membuat imej produknya seperti produk asing (luar negeri) agar dilirik calon pembeli. Mereka sampai-sampai tak berani untuk beradu kualitas dengan memajang nama lokal.</p>
<p>Tak ada yang salah dengan nama yang terkesan asing atau internasional. Pun belum tentu nama Piero diajukan sebagai usaha pengasingan produk lokal. Di lain pihak, masih banyak orang Indonesia yang, saya rasa, belum sadar bahwa banyak produk berkualitas yang mereka pikir barang impor ternyata buatan Indonesia.</p>
<p>Dalam waktu dekat semoga akan semakin banyak produk-produk berkualitas buatan Indonesia yang menguasai pasar dalam negeri. Dan konsumen kita akan semakin sadar akan keberadaan produk-produk lokal berkualitas internasional yang tidak perlu mengalami pengasingan nama. Sudah saatnya perindustrian Indonesia bangkit. Sudah saatnya Indonesia mempunyai produk nasional. Ini sudah dimulai dari yang paling bawah, sepatu.</p>
<p>Gambar diambil dari <a href="http://bp3.blogger.com/_X_z1raGwaPs/RnYHlGKL3FI/AAAAAAAAAIU/4sdzenisrH0/s1600-h/piero+03.JPG" target="_blank">database IKLANINDONESIA</a>.</p>
<p><span style="font-size:78%;"><span style="font-style:italic;">Disclaimer: Mohon maaf bila ada kekurangtepatan cerita tentang awal terciptanya nama Piero. Sumber yang saya sebutkan di atas adalah bagian dari tim marketing perdana sepatu Piero. Bila ada pembaca yang mengetahui lebih, bisa dibagi ceritanya.</span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/randomworld.wordpress.com/107/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/randomworld.wordpress.com/107/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/randomworld.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/randomworld.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/randomworld.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/randomworld.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/randomworld.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/randomworld.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/randomworld.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/randomworld.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/randomworld.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/randomworld.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=randomworld.wordpress.com&blog=2818787&post=107&subd=randomworld&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://randomworld.wordpress.com/2008/03/21/sepatu-piero-pengasingan-produk-lokal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0bf6d58ca0362227d3bd364bc1c2ad5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ian</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://randomworld.files.wordpress.com/2008/03/piero03.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">piero03.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>