Posted by: ian | February 21, 2009

Karnoto: An Indonesian Culinary Business Story in America

Karnoto. Nama ini terdengar sangat Indonesia, atau tepatnya sangat Jawa. Dan memang Karnoto adalah nama seorang Jawa yang terkenal dengan masakanan Indonesianya yang hanya tersedia exclusively di hari Minggu di rumah sederhananya di Maryland, USA.

Pak Karnoto ini ceritanya adalah seorang koki yang libur pada hari minggu. Namun hari Minggu pun tidak digunakan untuk istirahat, justru untuk mengobati kekangenan orang-orang Indonesia akan masakan nusantara. Pengunjungnya pun datang dari berbagai pelosok daerah Maryland-Washington DC-Virginia. Ini mungkin salah satu jargon para pebisnis makanan, “Kalau makanannya enak, ke mana pun akan dikejar“.

Menu masakan yang disajikannya memang sangat beragam, miriplah menu restoran nusantara. Ada nasi goreng ayam, seafood, dan kambing. Martabak telur juga ada. Cumi-cumi cabe hijau ala restoran padang pun tersedia. Tempe dan tahu goreng, ayam goreng sambel terasi, soto babat, rawon, pempek…and the list goes on. Untuk sebuah wisata kuliner seminggu sekali ini cukup menyenangkan dan mengenyangkan.

Bukan hanya karena menunya yang beragam yang membuat Karnoto is worth the mention, melainkan juga karena operasional bisnisnya. Pintu mulai dibuka sekitar jam 10, masakan biasanya ludes sekitar jam 5 sore. Pengunjung bisa mencapai ratusan dalam satu hari. Banyak dari mereka yang tidak hanya makan di tempat tapi juga carry-out. Tentunya kapasitas produksi dan efisiensi yang cukup tinggi.

Minggu kemarin saya mendapat kabar gembira bahwa teman saya masuk sebuah sekolah kuliner di Virginia. Lalu saya pun segera membayangkan restoran Indonesia yang ada di sini (MD-DC-VA), dan juga membandingkannya dengan restoran Cina dan Thailand. Di Amerika, restoran Cina sudah seperti warteg dengan Orange Chicken-nya, meskipun banyak juga yang kelas atas. Restoran Thailand rata-rata ada di kelas menengah-atas mengandalkan Pad Thai dan berbagai jenis Curry-nya. Sedangkan restoran Indonesia, saya belum bisa melihat segmenation dan positioningnya karena tidak begitu banyak restoran Indonesia di daerah MD-DC-VA.

Saat itu saya mencoba untuk membandingkan restoran-restoran Cina-Thailand-Indonesia dari segi cost accounting, “Kenapa ya, kok resto Cina bisa murah banget? Mungkin karena bumbu yang mereka pakai ya itu-itu aja, nggak seperti masakan Indonesia. Bumbu rempah-rempah itu kan yang bikin mahal. Mereka bukan produk utama, tapi dibutuhkan untuk menghasilkan produk utama. Tanggapan yang saya peroleh adalah, “Itu bisa diakali”. Diakali? Maksudnya masak rendang tanpa jahe atau bumbu lotek pakai JIF Peanut Butter?

Mungkin karena bumbu rempah-rempah itu juga restoran Thailand akhirnya memposisikan diri di kelas menengah-atas. Masakan Indonesia sendiri bagaimana? Yang saya dengar ada sebuah rumah makan Padang di New York dengan harga terjangkau untuk ukuran state mahal tersebut, bahkan bisa dibilang great deal bagi mereka yang bukan penggemar masakan Padang sekali pun. Di Philladelpia juga banyak warung makan Indonesia yang affordable dan enak. Begitu juga pastinya di California.

Dan keberadaan warung Karnoto membuat saya berpikir bahwa beliau saja bisa mencapai economies of scale di mana tingginya produktifitas bisa berujung di harga yang lebih bersaing dengan restoran Cina. Rata-rata menu kotak kartonnya (seperti yang biasa dipakai di acara slametan) hanya $5. Bandingkan satu kotak penuh nasi goreng kambing atau cumi-cumi cabe hijau ini dengan menu lunch special a la Chinese food (biasanya dengan sedikit nasi goreng tawar atau nasi putih dan dua pilihan lauk plus satu fortune cookie) yang rata-rata harganya $6-7. Yang belum bisa dipastikan dari affordable price ini adalah fakta bahwa warung Karnoto dibuka di rumahnya sendiri yang otomatis memangkas banyak biaya secara signifikan.

Melihat populasi yang begitu beragam di DC Metro Area ini dan populasi orang Indonesia sendiri yang cukup besar, mengapa hanya ada (setahu saya) dua restoran Indonesia resmi? Satu restoran sudah tidak menyala lagi lampu OPEN-nya. Satunya lagi, Satay Sarinah, for sure punya makanan otentik nusantara namun sayang berlokasi di suatu tempat yang kurang friendly alias jauh dari pusat lalu-lintas. Ada yang berargumen bahwa restoran Indonesia tidak akan begitu diminati oleh orang Indonesia sendiri karena mereka cenderung suka masak di rumah untuk menghemat. Sedangkan orang asing kurang mengenal masakan Indonesia yang kalah bersaing dengan makanan Cina atau Thailand. Kalau memang argumen ini benar, apa rasionalnya untuk begitu banyaknya restoran Indonesia di New York dan California? Populasi orang Indonesia di sana jauh lebih besar dan persaingan bisnis restoran jauh lebih kejam. Tapi mereka tetap eksis, terlepas dari profitable atau tidak. Bagaimana pula dengan warung Karnoto?

Saat berdiskusi tentang restoran Indonesia di Amerika teman saya berpendapat bahwa pemerintah kita kurang bisa memberi iklim yang kondusif untuk mengembangkan bisnis ini. Sebagaimana untuk restoran Thailand, kedutaan besar Thailand memberikan pinjaman-berbunga-sangat-rendah dibandingkan bank umumnya bagi pebisnis restoran. Dan mungkin juga ada dukungan usaha promosi terintegrasi dari pemerintah.

Melihat Karnoto sebagai sebuah case study, seharusnya restoran Indonesia bisa bersaing dengan restoran-restoran Asia lain yang sudah lebih lama bercokol di sini. Apalagi jika ada kerjasama dan dukungan dari kedutaan besar atau konjen Indonesia setempat.

Eksistensi restoran Indonesia bukan hanya mencerminkan kesuksesan bisnis kuliner nusantara, melainkan juga menggambarkan pengaruh Indonesia sendiri di Amerika Serikat.

Advertisement

Responses

  1. tulisannya seperti koran, banyak dan rapat2 hehehehe

  2. Wah bagus banget tulisan lo, Yan!!! Bisa buat bahan paper gue nih!!! :mrgreen:

    Apa state law di DC-MD-VA yang emang gak kondusif utk membangun restoran…terlepas dari potensi pasar, biaya produksi, dll? Gue denger2, state law di Delaware kondusif utk mendirikan perusahaan2 swasta sehingga ga heran perkantoran tumbuh subur disana.

    Embuh lah….but pastinya kalo gw mo pake tulisan2 elo buat bahan paper (dianalisis dari sudut Hukum Ekonomi) pasti gue bakal nunggu approval dari elo dan kalo diijinin gue akan sertakan link blognya.

    Maklum lah lagi gatal-gatal cari bahan buat paper secara UAS dan UTS nya -apalagi weekly paperwork- adalah analyzis based economy and international law paper :)

    Wah tulisan ngasal gw mau dijadiin referensi buat graduate paper loe? Wah nama gw tar ada di daftar pustaka donk hehe…

  3. saya suka taglinenya, STAY FIRM, STAND OUT

    Thank you, Mas Ari!

  4. Slurp malam malam baca ginian jadi lapar.
    Apapun makananya minumnya.

  5. tolong nomor telepon dan alamat pak kartono di maryland


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.