Posted by: ian | November 12, 2008

Globalization: Are We In?

Original article posted on www.jakartabutuhrevolusibudaya.com.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia. Menurut data biro sensus Amerika, perkiraan jumlah penduduk Indonesia di tahun 2010 mencapai 242,968,342 yang menempatkan kita di urutan ke-empat negara berpenduduk terbanyak di dunia. Angka ini sedikit di atas Proyeksi Penduduk Indonesia oleh BPS, BAPPENAS, dan UNFPA yang memperkirakan penduduk Indonesia akan sebanyak 233,477,400 di tahun yang sama. Tiga negara di ranking teratas (Cina, India, dan Amerika Serikat) adalah mereka yang selain bersaing dalam jumlah penduduk juga bersaing dalam berbagai bidang strategis di dunia. Cina telah berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. India kini semakin ngebut dengan berbagai pengembangan teknologinya. Amerika sendiri, selain berusaha agar tidak sampai keteteran di arena balap dunia, tampaknya semakin gencar melakukan manuver politik untuk mendukung bidang-bidang lain. Amerika, Cina, India, dan negara-negara maju lainnya bersaing sekuat tenaga untuk menjadi pemimpin era globalisasi.

Di era globalisasi ini segala sesuatu bisa dilakukan dengan cepat dari dan ke mana saja. Saat konsumen di Amerika menelpon customer service suatu perusahaan, kemungkinan besarnya adalah telepon mereka akan dijawab oleh seorang petugas call center yang berlokasi di India. Berita gempa di Indonesia segera tersiar di CNN dalam kurang dari 12 jam. Produk furnitur dari Jogja pun sudah banyak menghiasi kota London. Apa lagi yang tidak bisa kita lakukan di jaman internet ini? Membaca berita, membeli buku, menyaksikan pertandingan sepakbola, bahkan mencari jodoh pun sekarang bisa dilakukan melalui internet. Semuanya sudah seperti Dji Sam Soe, menembus batas! Kita pun tak ingin ketinggalan menjadi salah satu peserta globalisasi.

Di sini masalahnya. Saat kita membuka pintu bagi globalisasi, sudah siapkah masyarakat Indonesia? Sudah bisakah kita menciptakan produk global seperti Samsung yang beberapa tahun lalu masih menjadi produk gurem? Sudahkah para peneliti kita diminati oleh universitas dan lembaga penelitian besar di negara-negara maju layaknya para peneliti dari Cina, India, dan Korea Selatan? Atau yang lebih lokal, sudah sejauh manakah tingkat pendidikan masyarakat kita? Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang bisa membuat kita merasa seperti tenggelam di laut lepas.

Saat ini semakin banyak pusat-pusat budaya, bahasa, dan kajian regional di universitas-universitas luar negeri. Berkat usaha Ibu Pangesti Wiedarti, penulis Buku Kiat Memenangkan Beasiswa, kini telah dibuka program studi bahasa Indonesia di beberapa universitas di luar negeri. Hal ini merupakan satu kemajuan yang menunjukkan eksistensi kita di ajang globalisasi. Ini juga bisa menjadi sebuah media promosi pariwisata dan investasi bagi Indonesia. Namun kemajuan di satu sisi harus juga diimbangi di sini lain. Promosi gencar di luar negeri harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dalam negeri. Kalau tidak, bisa terjadi ketimpangan di pasar global.

Coba bayangkan apa jadinya bila dunia luar mengenal dengan baik segala sesuatu tentang Indonesia sementara kita belum siap menyambut mereka? Bila mereka yang mempunyai kepentingan dengan Indonesia menguasai dengan baik data statistik dan karakteristik masyarakat kita, mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Program-program bagus yang kita lakukan mungkin saja bisa menjadi hal yang lebih menguntungkan bagi mereka. Mereka mungkin saja menggunakan kesempatan ini untuk memanfaatkan kita daripada bekerja sama dengan kita. Mengapa negara-negara lain harus bekerja sama dengan kita kalau kita masih kesulitan bernapas di rumah sendiri? Bukankah lebih mudah bagi mereka untuk memanfaatkan kita saja, toh mereka sudah mengenal Indonesia dengan baik? Pada akhirnya kita hanya akan menjadi sebuah pasar bagi siapapun untuk produk apapun. Ya benar, produk apapun: produk teknologi, ekonomi, sampai budaya. Starbucks, Blackberry, kerjasama pengeboran minyak, proyek restrukturisasi Aceh, sampai budaya meramaikan mall hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh betapa tingginya prospek Indonesia sebagai pasar. Belum lagi cadangan devisa minyak bumi Indonesia yang semakin menipis. Andai kita pun mempunyai kemampuan untuk mengolah kekayaan kita sendiri, kita yang akan bisa menentukan perjanjian kerjasamanya, bukan sebaliknya.

Globalisasi yang kita alami ini nampaknya masih terbatas pada level atas. Masih banyak lapisan masyarakat yang belum siap terjun ke dalamnya. Namun apa daya, sebagai sebuah bangsa di jaman modern ini mau tidak mau kita akan terjangkit sindrom The World is Flat, seperti dibahas oleh Tom Friedman. Dunia tidak akan menunggu kita. Jangan harap Amerika atau Jepang mau menunggu sampai Indonesia siap untuk menerima segala macam serangan globalisasi mereka. Coca-Cola, McDonald’s, Starbucks, dan produk global lain akan semakin merajai pasar dari tahun ke tahun seiring meningkatnya konsumerisme masyarakat Indonesia. Nilai realisasi Penanaman Modal Asing yang membaik di awal tahun 2007 kemarin belum cukup untuk kita jadikan sebagai indikasi kesiapan dan kompetensi masyarakat Indonesia secara merata. Kebijakan pemerintah yang top-down harus disertai dukungan nyata sampai ke level paling bawah. Pemerintah tidak boleh hanya mengeluarkan berbagai macam kebijakan dan meninggalkannya begitu saja. Tanpa sosialisasi yang baik itu semua tak akan efektif.

Jumlah penduduk yang besar ini harus mampu kita jadikan suatu nilai lebih. Nilai lebih yang bisa memberikan keuntungan bagi Indonesia, bukan bangsa lain. Malu rasanya jika kita bertengger di urutan ke-4 dunia dalam jumlah penduduk namun ternyata hanya berada di urutan ke-108 pada ranking Kualitas Sumber Daya Manusia 2006 yang dikeluarkan oleh UNDP. Sudah barang tentu ini kewajiban kita semua untuk bisa bersaing di ajang internasional. Masing-masing dari kita harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi. Kita harus benar-benar menjadi pemain global yang diperhitungkan dan muncul sebagai salah satu kekuatan baru Asia Pasifik, bukan sekedar penggembira. Siapa yang tak ingin melihat nantinya akan ada franchise Nasi Pecel tersebar di luar negeri? Kita juga berharap nama-nama profesor Indonesia tercetak di buku-buku teks terbitan McGraw Hill, Houghton Mifflin, dan Princeton Review bukan? Untuk itu kita membutuhkan suatu pembenahan mendasar yang sangat mendasar sehingga menyentuh tiap individu yang menghirup oksigen di Nusantara ini. Kitalah yang harus melakukannya. Jika pembenahan dari atas sulit dilakukan, maka kita mulai dari bawah. Jangan menunggu lagi, karena kita tak mau hanya jadi pasar!


Responses

  1. globalisasi = punya gadget terbaru, apal menu di starbucks, nenteng laptop ke coffee shop ato tempat2 yang ada hotspot nya, punya GPS navigation di kendaraan pribadinya (regardless itu cuma sepeda), naro bluetooth sebagai organ tubuhnya yang paling update……

    :mrgreen:

    Kalo di blog Nguping Jakarta bilangnya “cafe yang ada G-Spotnya” hehe…

  2. iannnn….
    wah ngomong globalisasi nich… aku jd ingat tentang konsep the long tail…
    kalo jaman dulu kita jualan masih bingung mikirin gudang, life cycle, belum lagi kalo piutang kita belum dilunasin hehehe… sekarang begitu byk hal tak terduga, yg jaman dulu pun gak bakal kebayang… Jual-beli tanpa ada batasan waktu, ruang, bahkan dimensi pun diterobos, percepatan macam apa nich…
    daripada pusing… buka blogku ya… dijamin bakal ceria deh…
    rdarmawansp.blogspot.com

    Wan, Koko ning ndi saiki? Awakmu ning Jogja ya?

  3. Update dooooonk!

  4. Globalisasi jangan sampai jadi nggombalisasi :mrgreen:

    Yang ada kita digombalin MNC :mrgreen:


Leave a response

Your response:

Categories