<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Fenomena: Kapitalisme di Indonesia</title>
	<atom:link href="http://randomworld.wordpress.com/2008/09/07/fenomena-kapitalisme-di-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/07/fenomena-kapitalisme-di-indonesia/</link>
	<description>Stay firm. Stand out.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Nov 2009 02:40:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: randy</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/07/fenomena-kapitalisme-di-indonesia/#comment-213</link>
		<dc:creator>randy</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 01:46:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=119#comment-213</guid>
		<description>seharusnya peran ...dinas pariwisata dan dinas kopersai..bisa terlibat ddalam pembangunan pariwisata kuliner Indonesia.....hal itu dah dilakukan oleh malaysia dengan memberikan modal para pedagang ...sehingga tida ada namanya pedagang kaki lima yg liar dan aman dari kekejaman aparat kita...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>seharusnya peran &#8230;dinas pariwisata dan dinas kopersai..bisa terlibat ddalam pembangunan pariwisata kuliner Indonesia&#8230;..hal itu dah dilakukan oleh malaysia dengan memberikan modal para pedagang &#8230;sehingga tida ada namanya pedagang kaki lima yg liar dan aman dari kekejaman aparat kita&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aal</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/07/fenomena-kapitalisme-di-indonesia/#comment-206</link>
		<dc:creator>aal</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 04:44:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=119#comment-206</guid>
		<description>peran wirausahawan dalam mengembangkan ekonomi bangsa itu apa yaah ???tolong jelaskan kirim ke e-mail saya iia !!!!
ardhi.ardiansyah@yahoo.co.id</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>peran wirausahawan dalam mengembangkan ekonomi bangsa itu apa yaah ???tolong jelaskan kirim ke e-mail saya iia !!!!<br />
<a href="mailto:ardhi.ardiansyah@yahoo.co.id">ardhi.ardiansyah@yahoo.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: asti</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/07/fenomena-kapitalisme-di-indonesia/#comment-191</link>
		<dc:creator>asti</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 03:05:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=119#comment-191</guid>
		<description>A very refreshing take on Indonesia&#039;s capitalism. I just hope Indonesians can love Indonesian products as much as those from abroad.

Now I just wish the customers have more power: to return merchandises (hate no-return policy), to make complaints (which government office is supervising business ethics?), to find out fraud/scam businesses...

I&#039;ve linked this blog!

asti</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>A very refreshing take on Indonesia&#8217;s capitalism. I just hope Indonesians can love Indonesian products as much as those from abroad.</p>
<p>Now I just wish the customers have more power: to return merchandises (hate no-return policy), to make complaints (which government office is supervising business ethics?), to find out fraud/scam businesses&#8230;</p>
<p>I&#8217;ve linked this blog!</p>
<p>asti</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Marhan Faishal</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/07/fenomena-kapitalisme-di-indonesia/#comment-173</link>
		<dc:creator>Marhan Faishal</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 13:40:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=119#comment-173</guid>
		<description>Bener juga analisis ente tentang perbandingan bisnis di indonesia dan amrik. Kalau dipikir, kesemrawutan aturan usaha adalah sebagai sebuah peluang. Memang benar itu... Tapi jangan salah, di indo juga marak korupsinya. Yang aku tahu tentang bisnis periklanan. Masak semuanya dipajakin, tapi apa kontribusi negara buat industri? Nothing! Walo kita tertib bayar pajak, tetep aja jalanan berlobang, tetep aja bawa barang pake truk mesti setor ke petugas sepanjang rute dsb. Bagi pengusaha menengah di Indo tuh high cost. Tapi untungnya, bagi usaha bawah, ini berkah. Jangan salah, walo kaki lima mereka juga harus &quot;setor&quot; ke beberapa oknum kalau mau usahanya tetap ada.

Kalau mau sukses bisnis di Indo, jangan ikuti aturan. Ikuti kata hati saja...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bener juga analisis ente tentang perbandingan bisnis di indonesia dan amrik. Kalau dipikir, kesemrawutan aturan usaha adalah sebagai sebuah peluang. Memang benar itu&#8230; Tapi jangan salah, di indo juga marak korupsinya. Yang aku tahu tentang bisnis periklanan. Masak semuanya dipajakin, tapi apa kontribusi negara buat industri? Nothing! Walo kita tertib bayar pajak, tetep aja jalanan berlobang, tetep aja bawa barang pake truk mesti setor ke petugas sepanjang rute dsb. Bagi pengusaha menengah di Indo tuh high cost. Tapi untungnya, bagi usaha bawah, ini berkah. Jangan salah, walo kaki lima mereka juga harus &#8220;setor&#8221; ke beberapa oknum kalau mau usahanya tetap ada.</p>
<p>Kalau mau sukses bisnis di Indo, jangan ikuti aturan. Ikuti kata hati saja&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yonna</title>
		<link>http://randomworld.wordpress.com/2008/09/07/fenomena-kapitalisme-di-indonesia/#comment-166</link>
		<dc:creator>yonna</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 04:40:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://randomworld.wordpress.com/?p=119#comment-166</guid>
		<description>Eh soal bisnis restoran, gue denger katanya sulit banget yah untuk membangun suatu restoran. Karena restoran tersebut harus memenuhi standar kebersihan menurut peraturan setempat, kalo ditemukan ada sehelai rambut dalam makanan, satu kecoa atau tikus maka restoran itu harus ditutup untuk dibersihkan dan baru boleh dibuka setelah dapet ijin dari pejabat setempat. Belom lagi ada food critic, dll.

Makanya Indonesia disebut surga bagi mereka yang ingin membuka usaha, karena perijinannya gak seketat negara2 maju. Tapi apa iya surga? Hahahaha, tunggu aja sampe mereka mengalami ruwetnya mengurus pelunasan pajak dan peraturan pajak yang bolak balik berubah, kelebihan bayar pajak duit lu gak dibalikin, kekurangan bayar pajak udah pasti ditagih ampe disamperin. Sorry buat orang pajak, tapi saya pribadi, sampe saat ini, belom pernah mempunyai pengalaman positif berurusan dengan kalian. Apalagi uang pajak yang digunakan untuk membiayai fasum dan fasos entah kemana, melihat kondisi jalan yang rusak, fasum dan fasos yang sangat minim, dll.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Eh soal bisnis restoran, gue denger katanya sulit banget yah untuk membangun suatu restoran. Karena restoran tersebut harus memenuhi standar kebersihan menurut peraturan setempat, kalo ditemukan ada sehelai rambut dalam makanan, satu kecoa atau tikus maka restoran itu harus ditutup untuk dibersihkan dan baru boleh dibuka setelah dapet ijin dari pejabat setempat. Belom lagi ada food critic, dll.</p>
<p>Makanya Indonesia disebut surga bagi mereka yang ingin membuka usaha, karena perijinannya gak seketat negara2 maju. Tapi apa iya surga? Hahahaha, tunggu aja sampe mereka mengalami ruwetnya mengurus pelunasan pajak dan peraturan pajak yang bolak balik berubah, kelebihan bayar pajak duit lu gak dibalikin, kekurangan bayar pajak udah pasti ditagih ampe disamperin. Sorry buat orang pajak, tapi saya pribadi, sampe saat ini, belom pernah mempunyai pengalaman positif berurusan dengan kalian. Apalagi uang pajak yang digunakan untuk membiayai fasum dan fasos entah kemana, melihat kondisi jalan yang rusak, fasum dan fasos yang sangat minim, dll.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
