Apakah penampilan kita harus selalu relevan dengan jenis pekerjaan kita? Malah ada yang bilang bahwa penampilan secara otomatis mencerminkan pekerjaan kita. Contoh gampangnya ya businessman yang tampil necis berdasi dan berjas, profesor yang berkacamata, polisi yang berambut cepak dan tegap, atau hairstylist yang rambutnya pasti gayanya tidak mudah ditiru manusia biasa.
Nah, mari kita fokuskan pembicaraan pada contoh yang terakhir, hairstylist. Kalau kamu pergi ke salon, bisalah langsung menebak mana yang penata rambut mana yang rambutnya perlu ditata. Sebenarnya dengan hanya melihat seragam yang dipakai sih sudah terlihat mana yang penata rambut. Tapi seragam saja tidak afdol. Bagi yang pria tidak harus jadi banci (meski kebanyakan sih begitu), paling tidak seorang penata rambut mempunyai gaya rambut yang oke donk. Kalau rambutnya saja tidak sedap dipandang bisa-bisa ungkapan ini menusuk hati mereka, “sebelum menata rambut orang lain, tata rambutmu sendiri terlebih dahulu“. Wajar,kan? Ya iyalah, masa…nggak jadi nerusin deh nanti dikira korban iklan hehe…
Nah, ibaratnya apa yang ada di pikiranmu kalau pelatih renangmu seperti orang yang belum bisa berenang? Itulah yang saya alami di penghujung Agustus lalu. Bak orang linglung, saya masih belum sadar bahwa yang akan memotong rambut saya adalah seorang pria yang lebih mirip orang yang peru ditata rambutnya ketimbang seorang penata rambut. Saya sempt shock di kursi salon. Saya benar- benar tidak percaya kalau dia itu seorang penata rambut, dan yang lebih penting, yang akan memotong rambut saya. Bahkan kalaupun dia bersumpah dan bersimbah di ujung jempol, saya masih tidak percaya. Bayangin aja, udah rambutnya nggak tertata, kaosnya berwarna daun kering layu, wajah kusam, dan napas bau rokok! “Eeeuw…it’s disgusting, no way! Masya syeorang hairstylist nggak stylish, sich?” kata Cincha Wauwa.
Busyet…aku tertipu lagi, uwo uwo…! Tapi, kan ada pepatah “Jangan menilai buku dari sampulnya”. Berbekal optimisme dan harapan yang cerah, saya jalani proses potong rambut yang biasa dlakukan 2 bulan sekali itu dengan adrenalin terpacu seperti naik motor tanpa helm dan SIM. Hasil optimisme dan harapan saya: tidak jelas. Dan saya terpaksa menghentikannya memotong rambut saya pada menit ke-19. Kalau tidak, habis lah sudah!
Moral of the story: Jangan menilai buku dari sampulnya, tapi kalau mau potong rambut liat dulu orangnya. Percaya deh, untuk kebaikan diri kamu sendiri lebih baik play it save daripada berharap keajaiban. Dan menurut saya penampilan memang harus selalu relevan dengan pekerjaan. Paling tidak untuk meyakinkan calon klien.
Apakah penampilanmu relevan dengan pekerjaanmu?


Itu yang paragraf ketiga baris pertama, nyindir yach?! Kalo iya, grrrr…….. itu kan masalahnya sudah selesai
Kalo menurut gue sih, apapun profesi kita harus tetep memperhatikan penampilan seperti kebersihan, kerapihan, keserasian dan keharuman. Apalagi kalo menghadiri event penting, harus menyesuaikan. Tapi kalo berpenampilan necis setiap saat ya gak juga lah….kalo cuma baca dokumen, coret coret, ngetik komputer, ngawasin bawahan di kantor, dll mending pake baju yang gak heboh aja dandanannya, yang penting rapi.
Emang sih penampilan mempengaruhi penilaian orang terhadap diri kita. Meski terasa tak adil dan superficial, tapi itulah kenyataannya dan hal ini berlaku di mana aja. Antara penampilan, sikap, cara membawa diri, cara berkomunikasi, dll seperti satu kesatuan yang gak bisa dipisahkan.
Ahahahaha….i feel sorry for your bad hair day
By: yonna on September 9, 2008
at 4:11 am
Hiahaha…Yon, asli gw g kepikiran elo waktu nulis paragraf ke-3. Kmrn cm nyari analogi yg mirip aja, kebetulan itu yg nyantol pertama. Perlu gw ganti?
By: ian on September 10, 2008
at 2:40 am
Gpp Yan, gue tau bukan gue yang elo maksud (*ge-er). Lah gue gak punya masalah hukum apapun ngapain tersungging
Eh btw elo ikut facebook gak sih? Gue add yah
By: yonna on September 10, 2008
at 3:32 am
Seringkali orang menilai buku – atau paling tidak bisa ngira-ngira isi buku – dari covernya. Kalau cover tidak mencerminkan isi buku, lha terus buat apa cover itu dibikin? Mbok wis, mending gak usah ada cover, langsung saja isi bukunya.
Maksudku, kadang kita perlu juga membentuk persepsi orang dengan potongan rambut kita. Kalau rambut kita gondrong kayak seniman, pas kita ngomong seni, percaya nggak percaya akan lebih banyak orang yang percaya daripada orang yang potongan rambutnya kayak anggota TNI.
Nah, tinggal kita aja nih, memainkan persepsi orang dan streotip yang kadung kebentuk di benak orang-orang. Mau mempersepsikan kita sebagai apa? Selamat cukur rambut…
By: Marhan Faishal on January 23, 2009
at 9:25 am
lha mas, nak misale aku senengane gawe kaos oblong, jin bolong-bolong, sandal jepit warna-warni, enake dadi opo?? penginku sih dadi bos
By: pujo85 on February 13, 2009
at 3:06 pm