Opinionated Writer, How Far Would You Go?

Main Entry: opin·ion·at·ed
Pronunciation: \-yə-ˌnā-təd\
Function: adjective
Date: 1601
: unduly adhering to one’s own opinion or to preconceived notions
opin·ion·at·ed·ly adverb
opin·ion·at·ed·ness noun
Mirriam Webster
Pronunciation: (u-pin’yu-nā”tid), [key]
adj.
obstinate or conceited with regard to the merit of one’s own opinions; conceitedly dogmatic.

Random House Unabridged Dictionary, Copyright © 1997, by Random House, Inc., on Infoplease.

Dewasa ini blog sudah menjadi frontline banyak dari kita dalam berinteraksi dengan dunia luar. Blog bersifat bebas, baik dari segi teknik penulisan, isi tulisan, dan sebagainya. Karena sifatnya yang sangat bebas ini, blog kemudian seakan-akan dijadikan sebuah tameng anti peluru bagi beberapa orang dalam menyampaikan pendapatnya.

Kita tinggalkan dulu blog yang berisi curhat harian atau ulasan teknis teknis Linux. Blog-blog itu relevan bagi yang berkepentingan. Siapa yang peduli curhatan saya kecuali saya sendiri? Siapa yang peduli perkembangan Linux selain para komputer mania. Blog-blog ini audience profile-nya spesifik. Hanya orang-orang tertentu yang akan membaca tulisan di dalamnya hingga tuntas.

Namun ada blog-blog lain yang audience profile-nya lebih luas karena sang blogger memang tidak menulis tentang masalah teknis yang spesifik. Blog-blog ini umunya berisikan opini atau pendapat sang blogger terhadap suatu masalah. Sudah layaknya Kolom Opini di koran-koran, tulisan dalam blog ini sangat dipengaruhi oleh sang penulis. Bahkan, karena blogger menulis di blog, mereka bisa lebih bebas dalam menyampaikan pendapatnya. Proporsi opini dan fakta atau kebenaran ilmiah sering tidak berimbang.

Saya rasa, sebagian besar blog yang ada sekarang ini (termasuk blog ini) bisa dikategorikan sebagai blog opini dimana beberapa blogger menyebut diri mereka sebagai opinionated writer. Dari pemahaman saya dari perbincangan dengan beberapa blogger, yang mereka maksud dengan opinionated writer adalah bahwa mereka menulis sebagai hasil dari pemikiran mereka. Ini seperti menjawab pertanyaan, “Apa pendapatmu tentang …?” Dan satu hal yang ditekankan (oleh opinionated writer) adalah bahwa kita harus menghargai freedom of speech dan menerima perbedaan. Tidak jauh seperti yang selalu diteriakkan pengusung freedom of speech terbesar di bumi ini (kita tahu siapa itu) yang ternyata juga membangun tembok-tembok kaca bagi suara yang tidak diinginkan.

Kembali ke dunia blogging dan opinionated writer, biasanya blog mereka lebih banyak mengundang komentar daripada blog yang cenderung menyajikan fakta-fakta yang membosankan. Membaca komentar-komentarnya terkadang terasa lebih mengasyikkan daripada artikel yang dikomentari itu sendiri. Ini, sekali lagi, karena interaksi di dunia maya sangatlah bebas. Kebebasan ini kadang digunakan oleh beberapa orang untuk tampil dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya mereka mengerti dan pahami. Tak akan ada yang akan mempertanyakan integritas akademis seperti kredibilitas sumber informasi artikel, keaslian tulisan, dan pertanggung jawaban moral. Dan memang, seseorang tak harus menjadi ahli untuk menulis di blog tentang suatu isu yang sangat teknis dan sensitif sekalipun.

Karena sifat interaksi blog yang bebas, freedom of speech, sikap menerima perbedaan pendapat, dan siapa saja bisa menulis ini, seharusnya seorang opinionated writer menekankan bahwa yang tertulis di dalam artikelnya adalah hasil pemikirannya sendiri dan bukan sebuah sajian fakta. Memang benar bahwa sajian fakta bisa dijadikan diskusi menarik. Tapi penekanan bahwa sang opinionated writer-lah yang membuat fakta itu tampak berbeda sangat penting. Kata-kata seperti, “Menurut pendapat saya”, “Dalam pandangan saya”, atau kata-kata yang lain yang bisa memberi pemahaman bahwa pembaca sedang mendengarkan pendapat sang penulis tidak dapat disepelekan. Artikel macam ini lebih bersifat subjektif daripada objektif karena memang ditulis dari opini seseorang.

Kalau subjektifitas dilupakan, kecurigaan yang bisa dilayangkan adalah: misleading or lack of knowledge. Seperti survey murahan untuk tujuan marketing yang mengatakan, “7 dari 10 wanita menggunakan…” Angka 7 dan 10 itu tidak menggambarkan apa-apa kecuali maksud untuk menutupi sesuatu dan memaksakan pesan. Dari mana kesimpulan 7 dari 10 itu berasal? Kalau memang hanya 10 orang yang disurvey dan kebetulan 7 orang di antaranya menggunakan merek X, apakah kita lantas percaya atau membenarkannya? Ada ratusan juta manusia (di Indonesia saja), dan 10 orang tidak cukup untuk mewakili suara mereka. Statistik yang tidak disajikan dengan lengkap bisa menyesatkan.

Bagi saya, hal di atas sama buruknya dengan melupakan subjektifitas dalam tulisan kita. Apakah pemikiran kita begitu hebatnya hingga kita tak perlu lagi mengatakan bahwa tulisan kita semata-mata hasil pemikiran manusia biasa? Ataukah kita terlalu malu bahwa tulisan tersebut merupakan hasil pemikiran kita? Mengatakan bahwa “Freedom of speech itu buruk”, tanpa memperjelas bahwa kita yang berpendapat demikian bisa menunjukkan arogansi yang menyesatkan. Informasi semestinya disajikan secara utuh. Kita berada di sisi mana itu urusan lain. Terlebih saat kita menuliskan pendapat kita yang secara kasat mata berseberangan dengan fakta (atau kebenaran umum) yang ada.

Secara ilmiah  kita tidak bisa membuat suatu pernyataan yang bertentangan dengan suatu fakta kecuali itu adalah pendapat kita sendiri. Kita bukan berusaha mewakili fakta tersebut. Bahkan sebaliknya, kita berada di sisi yang lain. Mengatakan bahwa “Matahari adalah pusat tata surya” tanpa membubuhkan (misalnya) kata “menurut pendapat saya”, membuat kita seolah sedang menyuarakan suatu kebenaran. Penyampaian kesimpulan semacam ini yang sering dilakukan oleh para blogger karena kebebasan berkomunikasi di dunia maya. Bahkan dengan bukti-bukti ilmiah yang cukup pun, semestinya kita tetap menunjukkan subjektifitas karena kita menulis dari sudut pandang kita.

Satu hal lagi yang mungkin bisa kita jadikan acuan sebagai opinionated writer adalah sejauh mana kita akan menulis tentang sesuatu yang tidak sepenuhnya kita pahami. Meskipun opinionated writer menulis berdasarkan pendapatnya yang didukung oleh freedom of speech, kita tetap harus tetap menulis dengan penuh tanggung jawab. Jika ada yang pantas menerima pujian atau kecaman, itu kita- bukan orang lain. Jika kita meneriakkan semangat menerima perbedaan akan pendapat kita, tapi kita menutup mata dan telinga kita dari komentar-komentar yang tidak menyenangkan, bukankan ini justru mendorong kita pada sikap hipokrasi? Banyak sekali video di YouTube dengan pesan yang sangat sensitif dimana sang uploader secara tegas mengatakan, “Komentar negatif akan dihapus.”

The bottom line: opinionated writer juga harus memperhatikan etika dalam menulis. Opinionated bukan manipulative. Opinionated writer menulis dari hasil pemikiran yang cerdas dan sehat yang tidak menyesatkan maupun kurang berpengetahuan.

I mean, come on guys, even my 68 year-old grandma can be an opinionated writer, if she knows how to use a computer. Sure, she has a lot of opinion… about anything.

8 Responses to “Opinionated Writer, How Far Would You Go?”

  1. yonna Says:

    Duh menyentuh sekali….terutama untuk opinionated writer beneran yang kebetulan tinggal satu kota dengan Ian :lol:

    Ya emang menarik membahas tentang interaksi dan pergaulan di dunia maya, kadang saya suka lose control saat mulai asyik dan enjoy membaca suatu artikel beserta komentar2nya yang saya anggap menarik (baca : kocak), ke depannya mungkin lebih eling aja kalo mau nulis komentar, biar jatuhnya gak over-reacting on something :)

    Saya juga kurang setuju dengan kebebasan berbicara yang dijadikan alasan untuk berbicara lancang. Segala sesuatu ada batas dan tempatnya, meski bebas tapi sudah pasti harus bertanggung jawab dan ditentukan mau sampai sejauh mana bebas berbicaranya itu. Kemudian diperhatikan apakah kebebasan berbicara bisa memberikan manfaat positif untuk semua atau hanya sekedar ekspresi kebablasan?

    Semua orang punya area privasinya sendiri, jadi bagi mereka yang membatasi komentar negatif di situs atau blognya adalah semata-mata hak mereka sebagai pemilik privasi individu atau golongan. Kalau tidak ada batasan terhadap freedom of speech, lalu buat apa dibuat peraturan? Apalagi kalo peraturan dituding sebagai kaca pembatas bagi suara yang tidak ingin didengar. Loh bukankah membuat batasan atau peraturan adalah hak yang setara dengan hak kebebasan berpendapat?

    Tapi saya setuju dengan janganlah memanipulasi karena kalau emang gak ada kepentingan apa-apa, berpihaklah pada prinsip anda pribadi dan tidak berpihak pada golongan tertentu.

    Thanks for reminding :)

  2. ian Says:

    Hahaha…analogi bagus yang muter-muter Yon…paragraf 4.

  3. yonna Says:

    @Ian

    hahahahha terlalu detil, ini doang sih intinya:

    “hak membuat batasan/peraturan setara kedudukannya dengan hak kebebasan berbicara”

    muter2 dulu ala endonesia bro :lol:

  4. yonna Says:

    hey judulnya diedit ya? lebih jelas :)

    dan lebih menusuk pastinya :mrgreen:

  5. yonna Says:

    eh ktinggalan

    it seems like everybody has a tendency to be listened, somehow we forget to listen because we’re too busy to talk and hoping there are many people listen to us, give their comment/opinion moreover to give us compliments.

    in exaggeration case , i mean.

    ini yang jadi pertanyaan gue tentang interaksi dunia maya dan maknanya, kadang-kadang membingungkan meski esensinya sama aja ma interaksi dunia nyata. tapi mungkin yang ini lebih detil masalahnya yaitu perkara ingin didengarkan dan mencari siapa yang mau mendengarkan dan percaya ma omongan kita. pursue of happyness kali yach?!

    gak nuduh, cuma curhat :)

  6. ian Says:

    Maksud loh…?
    Hahaha…

  7. yuki tobing Says:

    Waduh Ian, sumpah dalem bener artikel ini, entah kenapa kok gw ngerasanya agak berat yah. :lol:
    Yang lebih panting lagi dari paragraf ke-4, jelas pada paragraf terakhir, yeah some might found it as a joke, but I took it differently. :D

  8. ian Says:

    Busyet deh, berat apanya ya? Cuma tulisan dari seorang opinionated writer gitu loh hehehe…

Leave a Reply