Posted by: ian | March 25, 2008

Apa Susahnya Sih Membaca?

22930756_4b5418925d.jpgYang saya maksud dengan membaca di sini bukanlah membaca tingkat tinggi macam membaca novel intelek a la Deception Pointnya Dan Brown apalagi literature karya Leo Tolstoy dan William Shakespeare. Itu jelas susah dan berat. Membaca yang saya maksud adalah membaca kata/frase/kalimat atau peringatan yang sering tertera di formulir, muncul di monitor komputer, atau tertempel di kaca pintu/jendela. Misalnya stiker bertuliskan: Awas anjing galak! Bukan hal yang sulit untuk dibaca bahkan dimengerti, kan?

Membaca hal-hal kecil seperti ini terlihat cukup sepele hingga mungkin sudah tidak masuk kategori membaca lagi. Padahal membaca yang demikian tak kalah pentingnya dari membaca karya-karya literature. Begitu pentingnya membaca hal-hal kecil ini sampai bisa membuat kita terlihat bodoh (kalau belum memang bodoh) saat kita melewatkan hal-hal minor tersebut hingga kita terjebak dalam kepanikan yang tak jelas dan tak perlu. Padahal itu semua bisa dihindari kalau kita mau sedikit lebih tenang dan membaca apa yang tertulis. Kecuali kalau Anda masih tetap tidak bisa membaca meskipun telah berkonsentrasi maksimal karena ada gangguan pada mata Anda atau karakter bahasa asing yang sulit dimengerti. Apa susahnya sih membaca?

Beberapa hari yang lalu saya mempunyai pengalaman tentang membaca. Seseorang yang saya kenal bermaksud melakukan transfer uang melalui Money Gram ke seseorang yang lain. Dengan kilat ia hanya mengisi bagian Nama Pengirim dan Nama Penerima beserta jumlah uangnya lalu menyerahkannya pada petugas. Tak pelak lagi sang petugas menanyakan negara dan kota tujuan transfer serta alamat pengirim. Kontan saja saya geleng-geleng kepala dan hendak tertawa jadi-jadian. Dikiranya yang punya nama seperti si penerima itu hanya satu di dunia ini? Padahal jelas-jelas tercetak dengan huruf yang mudah terbaca, tetap saja tak terbaca (atau tidak dibaca). Apa susahnya sih memberi sedikit perhatian pada hal-hal kecil seperti ini? Ya, alasannya adalah itu merupakan kali pertamanya transfer memakai Money Gram. (Seperempat) Diterima.

Pengalaman yang berbeda, di kantor. Lagi-lagi hal konyol selain stapling terjadi di kantor. Menyaksikan seseorang melewatkan membaca hal-hal kecil selain bisa menjadi hiburan di tengah stress ternyata juga bisa menambah stress itu sendiri. Pembaca yang budiman, Anda semua pernah melihat dan mengoperasikan sebuah printer kan? Saya tertawa dalam sedih demi melihat seorang lulusan universitas ternama harus panik melihat sebuah printer berhenti mencetak dokumen-dokumennya setelah hanya beberapa lembar. Kepanikannya bertambah kala melihat lampu kecil merah berkelap-kelip di dekat information screen di muka printer. Halooo…kalau printer berhenti mencetak dan lampu kecil merah di dekat layar informasi menyala, apa yang harus kita lakukan? Ups, there’s the hint! Layar informasi. Read what’s on it!

Di tengah kepanikan, ia bertanya pada sang manajer. Sang manajer menjelaskan dengan gaya bodohnya bahwa si printer perlu makan, yaitu kertas! Dan dengan ekspresi bodoh yang tak kalah bodohnya, karyawan yang panik tadi balik bertanya, “Kok tahu?” Padahal dia mengaku telah membaca puluhan buku, buku sungguhan bukan buku teks. This is about the time when I should feel bad about reality. Apapun alasannya: Tidak Diterima.

Masih banyak cerita di kantor yang konyol dan menyedihkan tentang (melewatkan) membaca hal-hal kecil. Apa susanya sih membaca? Syukurlah, Berburu memasukkan materi akan pentingnya membaca dalam kurikulumnya.


Responses

  1. Ian, nampaknya anda senang mepertanyan kesusahan orang :D (peace).
    kalo saya ya, suka salah begitu karena saya bukan orang yang praktis. jadi sering gak memperhatikan yang detil. tapi kalo diadu daya imajinasi, kemampuan mengerti secara konseptual dan hal hal yang sifatnya filosofis, saya akan lebih baik.

    tapi memang saya jadi harus menghindari pekerjaan yang sifatnya public service, kalo gak mau kesalahan tersorot melulu :d .

    tapi dari sisi saya sih, begitu ya susahnya. semoga menjawab pertanyaan anda.

    salam,
    mulia

  2. Hahaha….bukannya senang mempertanyakan kesusahan orang lain. Cuma iseng dengan pertanyaan sederhana tentang hal-hal sederhana.
    Nah, karyawan yang suka melewatkan hal-hal kecil itu juga kebetulan filosofis. Apa mungkin memang ada hubungannya ya?
    Tapi saya filosofis juga lho…filosofis…ngaku-ngaku filosofis…

  3. kudu teliti juga ya Yan….kalo baca tapi otaknya ngeblank itu sih bukan baca tapi bengong hehe.

  4. ian, 2 minggu lalu gw juga menulis artikel tentang ini http://sherwintobing.com/index.php/archive/berinvestasi-melalui-membaca/

    betul, apa susahnya sih membaca? apalagi kalo udah jatuh cinta sama kegiatan itu,

  5. membaca sih gak susah, yang susah adalah menghilangkan rasa malas untuk membaca dan meluangkan waktu untuk membaca :)

    kebiasaan yang harus dipupuk dari kecil, kalo udah tua ya susah

  6. membaca hal-hal yang kecil juga penting, kemarin teman curhat gara-gara tidak membca petunjuk tes kerja dengan cermat akhirnya dia harus rela melepaskan lowongan itu.

  7. mungkin harus belajar jdari bloger blogger bagaimana ‘fast reading’ he he

  8. hihihi..mungkin pada berharap ada penyiar televisi di layar printer dan layanan transfer uang…jadi tinggal nonton..wuuusss…kelar deh..

  9. @ yonna:
    Kalo utk membaca buku-buku sih tantangannya terletak pada waktu juga Yon. Seringnya, “Gak ada waktu nih.”

    @ maysaro:
    Nah, itu juga contoh nyata yg tidak sedap.

    @ iman brotoseno:
    Benar tuh mas, tapi jangan terlalu cepat nanti gak nyantol yg dibaca malah gawat haha…

    @ ingki:
    Layanan transfer uang lewat printer gitu…itu si nyetak uang aja sendiri mas hehe…

  10. woi, update woi :P


Leave a response

Your response:

Categories