Masih teringat kedongkolan di hati saat bis kota yang saya tumpangi selalu ngetem (entah beginikah tulisannya) di terminal. Belum lagi sang sopir biasanya menyempatkan diri untuk makan di warteg kesayangan sembari mempersilahkan pengamen langganan mengisi time slot yang ada.
“Ayo naik sini, Mas!” ajak sang sopir penuh semangat.
“Sudah mau berangkat ya, Pak?” saya kegirangan karena tak harus menunggu bis lain.
“Ya, ayo ayo cepetan!”
Begitulah percakapan yang membuat saya memutuskan untuk naik bis kota tersebut. Dan saya pun duduk di dalam bisa kota itu, disusul kemudian oleh beberapa orang penumpang. Bis kota sudah hampir penuh dan sang sopir entah berada di mana. Saya tak kuasa menahan kejengkelan demi melihat bis-bis lain yang sudah mulai tancap gas. Tapi tak apalah saya berikan toleransi beberapa menit lagi. Toh, belum tentu saya mendapat bis lain yang siap jalan jika saya meninggalkan bis yang mesinnya masih dingin ini. Beberapa saat kemudian sang sopir baru mematikan rokoknya dan mulai menghidupkan mesin. Damn. Sejak usaha marketing sang sopir pertama kali sampai bis akhirnya berjalan sudah menghabiskan waktu sekitar 15 menit sendiri. Saya baru mengerti ini yang dimaksud sudah-mau-berangkat. Lain kali cari bis dengan status tinggal-injak-pedal-gas. Untungnya ada ratusan bis lain dengan trayek yang sama.
Pertama kali harus pergi ke kampus menggunakan bis kota di daerah metropolitan Washington D.C., saya cukup terkejut. Bis Ride On hanya lewat setiap selang waktu tertentu (umumnya setiap 30 menit) dan mengambil serta menurunkan penumpang hanya di pemberhentian yang sudah ditentukan. Tidak ada latihan ngetem dalam training yang diberikan pada tiap sopir bis kota yang dikelola pemerintah Montgomery county ini. You’re there on time or take the next bus, itulah aturan mainnya. Damn (lagi). Kali ini saya merasa dipermainkan oleh jadwal bis yang sama sekali tidak fleksibel. Nggak toleran blas!
Ngaret dan fleksibel jadi terasa tipis bedanya. Toleransi terpupuk subur. Sampai akhirnya ketidaktegasan menjadi bagian dari lingkaran setan ini. Hal-hal ini harusnya terdefinisi dengan jelas di dunia bisnis. Toleransi sangatlah dianjurkan dalam kehidupan sosial, tapi jangan terlalu memanjakannya di dunia bisnis. Semua sudah seharusnya straight forward. Toleransi yang selalu diberikan dalam praktek bisnis hanya akan menghasilkan ketidaktegasan dan kebiasaan buruk pada akhirnya.
Saya mempunyai pengalaman masam dengan toleransi dalam praktek bisnis. Hasilnya, tidak menyenangkan. Jadwal bisnis yang telat hingga beberapa minggu adalah konsekuensi dari toleransi saya yang melebihi toleransi standar perjanjian. Sampai akhirnya ketidaktegasan yang bermula dari toleransi saya itu mengakibatkan jadwal tersebut makin ngaret dari jadwal semula selama lebih dari empat bulan. Saya tidak mau mengulanginya lagi. Sebaiknya jangan pernah sekalipun Anda coba!
Yang lebih ironis dari kenyataan bahwa kita hidup dalam budaya ngaret adalah orang-orang ini sadar akan ke-ngaret-an mereka tapi tidak berusaha menyudahinya. Suatu ketika saya dengan integritas tinggi berniat menghadiri suatu rapat. Teman yang saya ajak mengalami sedikit masalah dalam penyesuaian jadwal. Saya memperingatkannya bahwa kami telat. Dengan pahamnya dia berkata, “Santai aja, paling yang lain juga belum ngongol.”
Kesadaran akan ke-ngaret-an yang tak kunjung ingin disudahi ini juga terlihat dari adanya pseudo-schedule tiap acara yang kita jadwalkan. Acara selalu kita jadwalkan beberapa jam lebih awal dari jadwal sebenarnya karena hampir pasti peserta datang beberapa jam setelah jadwal asli. Perhitungan matematis yang cerdas, keadaan psikologis yang mengenaskan.
Keadaan yang mengenaskan ini selalu dikeluhkan tapi juga selalu ditoleransi. Seharusnya kita merubah sikap kita, bukannya mengakomodasinya dengan terus-menerus mempermainkan jadwal acara. Toleransi yang disalahgunakan berakibat ketidaktegasan aturan yang seharusnya ditegakkan.
Kalau kita bisa merubah preferensi lidah kita untuk jenis makanan baru, mestinya kita juga bisa merubah sikap kita, donk?


hmmm….
saya juga sering dongkol nungguin kendaraan umum ngetem….lama banget, palagi kalo supirnya pake aksi maju pelan-pelan supaya penumpang menaiki mobilnya kemudian mundur pelan-pelan menunggu penumpang lainnya. maju-mundur itu menyebalkan, jenderal!
kemudian waktu saya kenal dan mencoba busway transjakarta, wah tepat waktu juga sih. walau antri tapi relatif lebih cepat dan punctual daripada kendaraan umum macam metro, angkot, mikrolet.
*kasian, baru bisa bandingin angkot ma busway, biar mirip ma pengalaman Ian gitu mrgreen:
By: yonna on March 24, 2008
at 5:02 am
Saya malah belum sampai bandingin angkot/bis kota sama busway haha..
By: ian on March 24, 2008
at 2:26 pm