Posted by: ian | March 15, 2008

Fenomena: Creative Destruction, Musik Indonesia, dan Siklus Bisnis

Again out of destruction a new spirit of creativity arises” (Wikipedia – kutipan dari Krieg und Kapitalismus (War and Capitalism) (1913, p. 207) oleh Werner Sombart’s).

Istilah yang kemudian dipopulerkan lagi oleh Joseph Schumpeter ini dikenal luas di dunia ekonomi. Ia mengatakan bahwa kekuatan sebuah sistem ekonomi itu terletak pada kreatifias individu yang kemungkinan bisa mengancam keberadaan pemain-pemain besar yang sudah mapan. Contoh gampangnya: di teknologi dunia rekaman 8-track diganti kaset, lalu muncul CD, lalu sekarang didominasi oleh teknologi mp3. Intinya, creative destruction adalah suatu evolusi yang tidak bisa dihindari. Pasti terjadi, hanya masalah waktu.

Lantas, apa hubungannya creative destruction dengan dunia musik Indonesia?

Melihat kebelakang di tahun 90an, saat blantika musik Indonesia masih didominasi Dewa-19, KLA-Project, (Alm) Chrisye, Krisdayanti saya merasa perkembangan dunia musik kita lamban. Mendengarkan radio bisa menjadi hal yang membosankan karena hanya lagu-lagu mereka yang diputar terus menerus meskipun bagus-bagus. Jenis musik pun didominasi oleh band pop-rock yang berganti-ganti personil dan penyanyi solo melankolis. Sekarang, hampir tiap minggu muncul nama penyanyi baru dan sebagian dari kita pun bertanya-tanya siapa dia. Minggu berikutnya, entah kemana penyanyi-penyanyi baru itu. Begitulah, dunia musik Indonesia telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, jauh meninggalkan perkembangan sumber daya manusianya.

Diawali pada tahun 2003 Akademi Fantasi Indosiar (AFI) membuat gebrakan (meski tidak orisinil) di dunia musik Indonesia. Sistem audisi ribuan pendaftar, latihan di asrama, sampai konser eliminasi memberi warna baru di TV kita. Setahun kemudian, Indonesian Idol diluncurkan. Ini juga bukan ide asli namun sangat berhasil menarik minat jutaan pendaftar dan pemirsa TV. Dua program ini telah menjadi mesin pencetak idola-idola baru Indonesia. Tapi, sejauh manakah para idola lulusan program-program ini bisa bertahan?

Di mana sekarang keberadaan Veri AFI1? Kemana Tia AFI2? Kita tunggu saja apa yang bisa dilakukan Joy, Delon, Mike, Ihsan, dan Rini. Masih ada nama-nama lain yang bisa kita sebut. Itu baru juaranya, belum termasuk finalis malang yang tereliminasi tiap minggunya. Apakah pemirsa TV masih ingat nama-nama mereka?

Seperti halnya di dunia bisnis, dunia musik tak lepas dari siklus yang dimulai dari introduction to market sampai declining stage. Siklus ini terus berputar dan tak terhindarkan. Kita tak bisa menghentikannya namun kecepatan putarnya bisa kita kendalikan. Dengan acara yang selalu diadakan tiap tahun seperti AFI dan Indonesian Idol, siklus ini tentunya berputar relatif cepat. Tiap tahun kita disuguhi wajah-wajah baru. Tiap tahun kita “dipaksa” menjadi penggemar idola-idola baru. Masalahnya bukan pada kita sebagai penonton atau penggemar yang bingung untuk mengingat-ingat nama banyak wajah baru yang kemampuan vokalnya sulit untuk diingat-ingat. Masalahnya lebih terletak pada produser dari idola-idola baru ini.

Dengan hanya membekali latihan selama beberapa minggu setelah lolos audisi untuk kemudian dieliminasi tiap minggu, calon idola-idola baru ini belum mempunyai bekal yang cukup untuk bisa sekedar eksis. Latihan satpam saja perlu tiga bulan. Belum lagi kalau pihak produser hanya memanfaatkan anak-anak bermimpi besar itu untuk kemakmuran acara dan bukannya benar-benar ingin menciptakan penyanyi-penyanyi berkualitas. Idola-idola instan inipun akhirnya tidak mempunyai business plan yang jelas untuk kedepannya. Serampungnya mereka dari musim eliminasi, entah apa lagi yang bisa membuat penggemar meneriakkan nama-nama mereka. Dengan bergulirnya acara yang sama tahun depan, mereka akan dilupakan. Jangankan untuk bersaing di tingkat Asia Tenggara apalagi Internasional, untuk bertahan di dalam negeri saja sudah sangat sulit. Hal ini diperparah dengan kemampuan mereka yang sebenarnya cukup memprihatinkan.

Produser acara-acara semacam ini kebanyakan hanya ingin meraup rupiah tanpa mau repot dan pusing memikirkan masa depan artisnya. Toh tahun depan ada lagi yang bisa dijadikan objek SMS. Orientasi jangka pendek ini menghancurkan dunia musik Indonesia tanpa menciptakan kreatifitas. Sebagai pembandingnya, kita bisa lihat bagaimana produser musik (lagi-lagi) Korea, misalnya JYP Entertainment.

Lebih gila dari AFI ataupun Indonesial Idol, JYPE mengadakan audisi tiap minggu pertama dan ketiga tiap bulan. Tahun ini JYPE berhasil menjaring sekitar 12 000 pendaftar dan hanya empat yang akan terpilih di akhirnya. Tapi audisi ini bukan untuk acara voting SMS idola instan, melainkan untuk merekrut trainee. Mereka yang terpilih tidak akan langsung merasakan silaunya sorot lampu panggung dan memperagakan akting menangisnya begitu tereliminasi. Para trainee ini akan dikontrak untuk menjalani latihan vokal, dance, bahasa asing, dan lain-lain (mirip AFI). Bedanya, anak-anak muda Korea yang bekerja keras untuk lolos audisi yang rasio berhasilnya 1:3000 ini untuk berlatih di studio selama dua sampai tujuh tahun. Bandingkan dengan AFI atau Indonesian Idol yang langsung menempatkan artis-artisnya untuk divoting setelah audisi.

Siapa yang tahan bertahun-tahun menjalani latihan keras yang entah dibayar atau tidak itu. Semangat pantang menyerah dan kesabaran dalam latihan panjang ini membantu membentuk kualitas si artis. Jika mereka bekerja keras dan menunjukkan perkembangan yang signifikan, produser menjajikan debut cepat. Jika masih banyak yang perlu disiapkan si artis, produser pun tak segan menunda beberapa tahun lagi sampai si artis benar-benar siap. Tak heran, meski belum banyak yang mengerti bahasa Korea, lagu-lagu Korea (K-Pop) mampu menduduki tangga lagu negara-negara tetangga.

Produser musik Korea tampaknya paham akan konsep creative destruction. Sadar bahwa perubahan dan persaingan akan selalu ada, mereka mempersiapkan artis-artis mereka agar mampu bertahan bahkan bersaing. Mereka berinvestasi uang dan waktu untuk melatih trainee bertahun-tahun. Suatu hal yang tidak belum kita lihat di Indonesia. Visi untuk melihat jauh kedepan ini perlu kalau kita ingin berhasil.

Pasca debut pun penampilan para artis tak lepas dari kontrol strategic planning perusahaan. Survey mulai dari lagu mana yang sedang disukai pendengar sampai trend fashion yang sedang hot dilakukan pihak manajemen sebagai senjata agar artis mereka benar-benar bisa merebut pasar. Underground marketing dan public relation menjadi hal yang sangat penting untuk menjalin hubungan dengan penggemar. Manajemen-manajemen artis ini mengeksekusi strategic planning dengan sangat seriusnya seperti (mungkin) Amerika menyusun rencana perang, atau seperti Pemda mengalokasikan miliaran rupiah untuk sepakbola yang prestasinya masih jauh terpendam di dalam perut bumi.

Pelajaran lain yang bisa kita ambil adalah bahwa mereka begitu menyikapi serius dunia hiburan. Sebuah dunia yang bahkan bagi sebagian besar masyarakat Korea masih dipandang sebelah mata. Jika suatu hal yang minor saja disikapi sedemikian serius, bagaimana dengan hal-hal yang lebih besar?

Dalam dunia bisnis, sebuah perusahaan didirikan dengan anggapan (ongoing concern) keberlangsungan hidup yang selamanya. Namun penggerak perusahaan itu sangat terbatas dan akan habis. Demikian juga dengan dunia musik. Industrinya adalah sesuatu yang akan terus ada, namun para pemainnya akan terus berganti. Jika siklus bisnis tidak diperhatikan sungguh-sungguh, dunia musik Indonesia bisa-bisa hanya menjadi tempat numpang lewat. Seperti yang dikatakan Hermawan Kartajaya tentang Sustainable Marketing, mungkin dunia musik kita sedang mengalami fase Bubble Marketing yang bisa meledak kapan saja seperti Dotcom crash. Siklus yang terlalu cepat tidak akan meninggalkan sesuatu yang signifikan. Seperti reshuffle kabinet di negeri kita tercinta.


Responses

  1. artikel yang menarik ian. menyoal sms, kalo pake sms udah bukan pilihan publik juga kan ya, toh yang kenceng aliran dananya dia yang menang ntar.
    soal kehidupan para peserta kontes bakat gak jelas itu yang tereliminasi terlebih dahulu, kmren baca blog iman brontoseno, beliau menjabarkan bahwa beberapa dari orang-orang itu memiliki hutang yang luar bisa jumlahnya, bahkan sampai harus tinggal di kos2an yang sangat kecil, ditambah jatah show yang diberikan indosiar gak seberapa.

  2. Menyedihkan ya…(sambil menghela napas panjang).

  3. seperti di industry film..suatu saat ( sekarang belum ) digital data akan menggantikan film seloluid. Lebih murah dan lebih praktis.

  4. Gue ada ide. Kayaknya SMS-polling dengan judul “Pejabat Korup mana yang harus mati minggu ini?”

    Gue yakin bakalan rame banget, melebihi Indonesian Idol atau AFI atau Mamamia or Papamia or apalah yg lagi nge-tren skrg ini.


Leave a response

Your response:

Categories