Posted by: ian | February 17, 2008

Fenomena: POLRI

lambangpolri.gifArah kebijakan strategi Polri yang mendahulukan tampilan selaku pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat…sejalan dengan paradigma barunya yang mengabdi bagi kepentingan masyarakat.”

Di atas adalah potongan bagian di awal dan akhir paragraf kedua di website POLRI. Seperti juga yang tercetak dengan cat kuning di mobil polisi berwarna abu-abu gelap, “Melindungi, mengayomi, dan melayani.” Benarkah?

Lembaga negara yang satu ini memang unik. Mereka inilah yang membantu menciptakan masyarakat yang aman dan tentram. Mereka membasmi kejahatan. Mereka mengatur lalu-lintas demi kelancaran dan kenyamanan berkendaraan. Mereka sangat responsif dalam menanggapi keluhan masyarakat. Mereka membuat proses pelaporan sangat sederhana dan tidak berbelit-belit. Mereka menjadikan pengurusan SIM, STNK, SKKB, dan surat-surat lainnya suatu pengalaman yang menyenangkan. Mereka tidak pernah mau menerima pemberian dalam bentuk apapun (uang maupun barang) dari masyarakat sebagai imbalan atas jasa yang mereka lakukan. Dan mereka tidak pernah tergoda untuk menerima pemberian yang tidak legitimate dari pihak manapun untuk bekerja sama demi kepentingan pihak tersebut. Sungguh ideal kan?

Memang ideal visi dan misi organisasi manapun. Tapi kita mengerti bahwa para polisi kita juga yang bisa terlupa karena seperti kata Seurieus, “polisi adalah manusia, punya rasa punya hati”. Dan karena punya rasa dan punya hati itu mestinya setiap dari kita yang sudah memutuskan untuk menjadi apapun tanpa paksaan dari pihak manapun melakukan tugasnya dengan penuh kesadaran, setulus hati, tanggung jawab, dan integritas. Memangnya salah apa para polisi kita itu? Nggak tahu ya hal-hal kecil itu bisa disebut kesalahan atau tidak. Namun kalau sampai sebuah survey kepuasan konsumen di Surabaya yang dilakukan oleh LPPM ITS tentang lembaga pemerintah yang paling mengecewakan menempatkan Kepolisian di urutan paling atas mengalahakan Telkom, PLN, PDAM, dan teman-temannya, apakah masyarakat atau lembaganya yang salah.

Pada jaman dahulu kala TVRI saja dengan bangga mengakui kesalahan teknisnya dengan mengatakan (yang kira-kira berbunyi) “Kesalahan bukan pada pesawat televisi Anda” saat gambar layar televisi kita berubah menjadi warna pelangi. Kalau kita meminta TVRI untuk menayangkan acaranya RCTI, kita bisa dianggap kurang waras. Selama kita mengharapkan sesuatu yang masih sebatas apa yang mampu dan seharusnya dilakukan oleh suatu lembaga pemerintah, itu masih wajar kan?

Coba kalau kita buat daftar bagaimana pak polisi kita melakukan tugasnya, kiranya banyak orang yang akan berpartisipasi dengan komentar negatif. Banyak dari kita yang diminta untuk sebaiknya membayar denda tilang di pos jaga. Ada yang waktu melaporkan suatu kejahatan malah disuruh membuat laporan untuk diketik sebagai berita acara di kantor. Ada pak polisi yang menerima sumbangan sebagai katalis untuk mempercepat proses pembuatan SIM dsb. Pak polisi kita juga sering bukannya membubarkan kongkow-kongkow kasino gelap, malah menarik kontribusi demi melindungi para penjudi itu agar bebas bermain.

Daftar ini bisa makin panjang. Ini juga bisa diperparah dengan rendahnya kualitas layanan customer service. Bahasa tubuh yang kurang ramah, tatapan mata yang membuat tegang dan males, nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar berwibawa, dan sikap i-am-the-authority membuat kantor polisi tempat yan sangat tidak menyenangkan untuk dikunjungi. Jangan-jangan para polisi kita ini lupa bahwa kitalah yang disebut customer, bukan mereka. Mereka yang melayani kita, bukan sebaliknya.

Ya memang sih, tidak semua personil polisi kita senegatif gambaran di atas. Tapi ini telah menjadi citra publik. Semoga video di Youtube tentang polisi di Bali yang mengantongi uang denda di kantor dari seorang turis asing itu fiktif belaka karena seharusnya si turis membayar denda di kantor pusat yang mengurusi denda tilang.

Bapak dan Ibu Polisi Yth., kami paham bahwa menegakkan hukum tidak mudah. Tapi kami mohon, tegakkanlah hukum dengan cara yang baik dan benar tanpa atribut lain-lain yang justru merusak nama baik kepolisian Indonesia. Kami juga sadar bahwa sebagian dari kami turut andil dalam melakukan hal-hal yang tidak semestinya yang dapat merusak citra polisi, terlebih lagi jika melibatkan uang. Unyuk itu, kami mohon Bapak dan Ibu Polisi Yth. bisa memberi petunjuk pada kami, bukan malah mengambil kesempatan dalam keadaan genting. Bapak dan Ibu Polisi Yth. pasti bisa, kan?

Catatan: Maaf, data survey kepuasan konsumen yang dilakukan oleh LPPM ITS tidak bisa saya temukan online. Ranking ini termuat di Surabaya Pos beberapa tahun lalu. Video tentang polisi di Bali juga menghilang entah kemana. Coba sampeyan ubek-ubek saja di Youtube, siapa tahu berhasil menemukannya.


Responses

  1. setuju!! Polri emang penjahat,terkorup dan komunitas paling aneh…pengen tahu kelakuan para istri2 perwira polri?mereka ikut2an ngurusin dinas…gila bo! lebih parah dari pelacur.emang,pernah ada kejadian istrinya seorang perwira menyerahkan tubuhnya kepada atasan suaminya hanya demi kenaikan pangkat suaminya!! gila ga sih???yah…tapi emang dasar perwira2 polri yang akpol kan lulusan sma, jadi maklumlah…apa itu ya yang jadi pertimbangan kapolri untuk meningkatkan grade, bahwa sekarang yang mau masuk perwira polri harus S1 / S2??mau apa negara ini keamanannya dipimpin anak2 SMA!!!ancur…………..FUCK YOU POLICE!!

  2. bisa gak polri hilangkan budaya feodal londonya yang sering meminta upeti dan imbalan atas pelayananya, saya dukung reformasi polri dan pak kapolri lanjut kan terus operasi bersih2nya terutama masalah anggaran yang rawan di sunat….


Leave a response

Your response:

Categories